Same Fire

You know how when your heart beats to the leaves that fall

That red-orange leaves in autumn

Beauty but tragic, you whispered

As the wind plays your hair, your eyes captured the clear blue sky

You love this city so much yet you still miss your hometown

This is your dream, you whispered to yourself, convincing your heart that everything will be fine

But, why do I feel lonely? 

And your eyes longing to never end

When the trees start to grow again, you will find another eyes to captured

The smile that you’ve been missing

You will recognise the fire in his eyes

It’s the same fire that you have

Both of you, together, will be the answer of thousand questions in your mind

It Was Never Love

Maybe it was never love in the first place

We only fed each other with our own imagination

Maybe it was never love in the first place

When we just only care to our existence not our true feeling

Maybe it was never love in the first place

When we running out of time and reasons to stay

Maybe it was never love in the first place

When we blamed each other for nonsense mistakes

Maybe it was never love in the first place

When we just don’t want to feel lonely in this crowded world

Or maybe… I was never love you in the first place

When I just don’t have this fire in my heart to keep me fight this relationship

Perempuan Itu (Part 3)

Ciuman pertama kami terjadi tanpa rencana.

Aku ingat tangannya yang menggenggam tanganku. Aku menarik tubuhnya mendekat. Mendekapnya.

Perlahan aku merasa ada yang hangat mengalir. Air mata-nya.

Dia masih teringat laki-laki itu.

Aku hanya bisa memeluknya dan menenangkan dirinya.

Maaf,” ucapnya sembari menghapus air mata. Ia mencoba tersenyum. Aku hanya bisa memandang matanya yang basah dan mengusap pipinya.

Ada rasa cemburu karena aku bisa melihat jelas bayangan laki-laki itu di mata-nya.

Cemburu?

Aku langsung teringat pacarku yang selalu termakan api cemburu. Pacarku berbeda dengan dia. Dengan dia, aku bisa meluapkan kekesalanku dan rasa bosanku. Dengan dia, aku bisa memeluknya bebas di depan umum. Dengan dia, kami bisa tertawa bersama ataupun berdiskusi serius hingga larut malam. Dengan dia, ciuman ini terasa berbeda.

“Mungkin lebih baik kita pulang,” katanya sembari membereskan barangnya. “Mood-ku sedang tidak baik”

Matanya menatap nanar handphone dengan layar gelap di ujung meja.

Dia masih berharap dihubungi laki-laki itu. Hey, ada aku disini.

Aku mengangguk enggan. Dalam hati aku berjanji untuk mengembalikan cahaya bintang di matanya.

“You know what. I’m hungry. Wanna have McD before we go home?”

I just need more time with you, and your biggest weakness is food. 

Dia tersenyum lebar dan tertawa, “an ice cream wouldn’t hurt”

Aku tidak bisa menyembunyikan senyum kemenanganku. Another hour with her is what I need now. Walaupun akhirnya hanya dihabiskan dengan mengutuk politik negeri ini.

Persimpangan Jalan

Apa rasanya ketika jarak memisahkan, yang bisa kamu lakukan hanya menatap nama-nya di antara barisan nama di kontak handphone.

Ketika rasa ingin tahu terpenuhi hanya dengan melihat update status Line atau postingan facebook.

Terkadang ia menghubungimu dengan kata manis yang kamu yakini kalau itu palsu (sehingga kamu bisa menahan rasa senang yang kamu rasakan).

Namun, semua itu berakhir sudah. Ketika akhirnya kalian berada di persimpangan jalan. Kamu dalam hati sudah tahu kalau dia akan memilih jalan yang berbeda. Dan dia pun melepasmu pergi untuk memilih jalan yang berbeda.

Ingatanmu kembali ke masa kalian pertama kali bertemu. Di antara puluhan orang, mata mu menangkap matanya. Kamu yang bisa melihat masa depan hanya dengan menatap mata-nya. Ingatanmu berlarian menuju memori kalian sedang berjalan berdua, dan bagaimana hatimu terenyuh mendengar ia menelpon ibunya. Kali ini ingatanmu pergi ke masa dimana ia memelukmu erat dan mengatakan membutuhkanmu. Di saat itu kamu paham, ia akan pergi suatu saat nanti.

Saat ia memilih pergi ke Utara dan kamu ke Selatan, kamu paham hubungan sementara ini akan berakhir. Seperti hal-nya magnet, kutub utara dan kutub selatan saling bertolak belakang dan menolak satu sama lain.

Kamu yang percaya bahwa “teman untuk selamanya” akhirnya belajar menerima bahwa dia bukanlah teman yang kamu cari.

Namun hatimu tetap perih menyadari kenyataan ini.

Karena yang ia lihat hanyalah perbedaan di antara kalian.

Apakah ia menyadari betapa banyaknya persamaan yang kalian miliki?

Angin dan Gelap

Kau tahu apa yang paling menyengsarakan manusia di malam hari? Ketika ragamu tertidur tetapi pikiranmu menolak untuk beristirahat, pikiran yang tetap hidup walau mata sudah tertutup.

Ketika Ia semakin liar dalam tidur, kau takkan merasa cukup beristirahat. Pikiran seperti itu ibarat mesin yang terus menyala dan tak tahu kapan ia berhenti bekerja.

Malam itu, hujan rintik-rintik turun membahasi bumi yang tengah terlelap, rasanya aku terbangun dari tidurku, hawa dingin membangunkanku, dinginnya menusuk tajam ke tubuhku, berlapis-lapis selimut tebal tak mampu menahan hawa dingin, malam itu.

Aku berupaya untuk kembali ke buaian malam, tapi mataku menolak, aku dipaksa bangun, sendirian ditengah malam dan menyambut kegelapan.

“Hai Gelap” Sapaku pelan, tetapi ia hanya diam tak menjawab, “Hai gelap!!” Ku ulangi sapaanku, mungkin ia tak mendengar kala aku panggil pertama kali, untungnya kali ini ia membalas sapaanku.

Ia kemudian bertanya kepadaku, mengapa aku terjaga disaat semua orang terlelap dalam buaian malam, akupun menjawab

“Malam ini begitu dingin, entah mengapa? Hawa dingin membuatku tak bisa tidur!” Gelap menatapku dengan penuh iba, iapun pamit untuk pergi sebentar sekaligus berjanji padaku untuk membantu mengatasi hawa dingin yang menusuk ini.

Gelappun datang kembali kehadapanku, tetapi ia tidak sendiri, ia bersama dengan hal lain, ia datang bersama dengan Angin.

Aku menyapanya, dan bertanya kepadanya mengapa hari ini tiupan angin yang berhembus membawa hawa yang begitu dingin. Iapun menjawab bahwa hari ini merupakan hari kesedihan buatnya.

“Mengapa kau sedih, wahai Angin?” aku bertanya, tetapi Angon tetap diam tak menjawab dan memilih untuk pergi.

Aku hanya terdiam, mungkinkah aku salah bertanya, ketika aku bertanya pada Gelap, iapun tidak tahu.

Gelappun pamit undur diri padaku, karena tugasnya mengawal malam hampir selesai, akupun melirik ke jam yang terpatri di dinding kamarku, “Ah, Fajar telah datang ternyata…”

Aku terdiam termenung, menikmati gradasi wartan yang menghiasi langit pagi itu, ketika sang hitam perlahan pergi digantikan dengan terangnnya warna fajar yang naik perlahan.

Hari barupun telah datang, dan malam ini aku belajar dari Angin bahwa tak semua kesedihan bisa dibagi dan diceritakan, walaupun yang bersedih tak sadar kesedihannya telah mempengaruhi orang lain dan sekitarnya.

FIN

Dalam Lamunan

Dalam lamunan, aku terhanyut akan dirimu
Dalam lamunan, aku terus membayangkan dirimuDalam lamunan, aku bisa berjumpa dengan dirimu

Dalam diam, aku berujar dalam hati
Agar Tuhan, sekiranya mengizinkan diriku
Agar Tuhan, setidaknya memberiku kesempatan
Untuk sekedar berjumpa denganmu dalam semu

Jarak kita jauh, begitu jauh
tapi
Di dalam lamunanku, semua terasa begitu dekatDi dalam lamunanku, Ku bisa memegang tanganmu dengan erat
Membelai rambutmu, mengecup bibirmu, menghabiskan waktu hanya, dengan, untuk mu.

Dalam lamunan…, andai kau bisa menjadi nyata
Andai Tuhan menjawab doaku
Pasti hati ini, hati yang akan bebas dari luka
Pasti jiwa ini, jiwa yang bebas dari rasa merasa
Pasti rindu ini, rindu yang tersampaikan

Dalam lamunan, walau ini takkan pernah jadi nyata
Setidaknya aku dapat berjumpa dengan bayanganmu seutuhnya
Dalam lamunan.

FIN