Gadis di Peron 4

Sendiri aku menunggu, tanpa kepastiaan.
Aku tidak pernah tahu kapan ia akan datang, ia begitu tak bisa ditebak,
Kadang ia datang, kadangpu ia tak telihat.
Wahai gadis di peron 4, kemana kau akan  melaju?

Parasnya menawan, ia tinggi semampai, berambut hitam legam yang acap kali dikuncir, kadang ia memakai kaca mata, kadang tidak.

Yang paling ku ingat darinya adalah bibir merahnya.
Tuhan memberinya garis bibir yang tipis, yang tampak sangat menawan ketika lipstik merah dikenakan di atasnya.

Aku tak pernah tahu namanya, akupun tak pernah mendapatkan kesempatan untuk bertanya.
Ia begitu jauh dariku, mungkin karena ketidakberanianku, aku hanya bisa memandangnnya dari kejauhan, wahai gadis di peron 4.

Pukul tujuh pagi, ia sudah berdiri di peron Stasiun Bekasi, menunggu kereta yang akan berangkat lima menit kemudian.

Gerbong favoritnya adalah gerbong kelima, karena ketika nantinya ia turun di Stasiun Klender, ia bisa bergegas berlari ke gerbang keluar, mengunggulin penumpang-penumpang yang lain.

Aku mengasihi diriku sendiri atas ketakuatanku untuk berkenalan denganmu,
Tapi tak apa,
Memandangmu dari jauh sudah begitu membahagiaku.

Karena, mungkin saja ketika nanti aku berkenalan denganmu, kau akan memilih untuk menjauh dariku.

Biarkan saja keadaan seperti sekarang ini,
Wahai gadis di Peron 4.

2 thoughts on “Gadis di Peron 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s