Cerita Kembali

Bolehkah aku bercerita lagi tentangmu?
tentang namamu, tentang katamu
mungkin kita akan bersama kembali
seperti yang teman-teman harapkan

Bolehkah aku bercerita lagi tentangmu?
tentang tawamu, tentang rasamu
mungkin kita tidak akan bertemu lagi
seperti yang teman-teman harapkan

Bolehkah aku bercerita lagi tentangmu?
tentang kisahmu, tentang pikiranmu
mungkin kita hanya saling merindu sepi
seperti yang aku harapkan

Advertisements

surat cinta #3

Ada perasaan yang membara
Dulu, aku pikir ini milikmu
Namun kehangatan ini ada karena ada
Karena catatan kecil yang pernah kucatat

Ada perasaan yang membara
Kemarin, aku pikir ini karenamu
Kupikir karena catatan tentangmu
Tapi kini bukan tentangmu, bukan tentang kamu

Ada perasaan yang membara
Tadinya, aku pikir ini kisahmu
Memang ini catatan lama tentangmu
Dan sekarang, kamu hanya sebuah cerita lama

Surat Cinta #2

Tadi aku menangis
Sekilas karena mengingatmu
Maka aku berusaha menahannya
Karena kamu berharap aku tertawa

Tadi aku tertawa
Sekilas karena melupakanmu
Maka aku berusaha melanjutkannya
Terus, terus, agar kamu dapat mendengarnya

Tadi aku terdiam
Sekilas karena keberadaanmu
Maka aku berusaha menjalaninya
Meskipun sekarang dirimu entah dimana

Tadi aku menghela napas panjang
Sekilas karena merindukanmu
Maka aku berusaha tersenyum
Menikmati rasa tanpa dosa.

Pengamat

Rama ingat saat Shinta menjelaskan perbedaan antara teh Earl Grey dan teh English Breakfast. Namun tidak bisa dipungkiri, ia tidak bisa membedakan keduanya. Sepanjang masa berpacaran, ia hanya bisa membedakan Camomile dengan Green Tea.

Berbeda dengan Shinta, ia paham ketika Rama menjelaskan perbedaan dari Kopi Luwak dengan Kopi Sumatera. Namun tidak bisa dipungkiri, ia tidak bisa mengkonsumsi kopi. Setiap kali ia meminum ‘kopi asli’ jantungnya akan berdetak terlalu kencang, dan irama hatinya jadi tidak beraturan. Sehingga ia tetap meminum teh yang juga mengandung kafein sekaligus menenangkan.

Kali ini, Rama memesan Earl Grey, karena ia mengetahui apabila Shinta memesan teh tersebut. Kini ia sudah paham apabila Shinta akan meminum Green Tea di pagi hari, English Breakfast di siang hari, Earl Grey di sore hari, dan Camomile di malam hari. Setelah Shinta meneguk tegukan pertamanya, telepon genggam Shinta berbunyi.

“Hai Rama…” sapa Shinta setelah melihat nama mantan kekasihnya di layar teleponnya.

“Hai Shinta, pa kabar?”

“Baik, kamu gimana?” tanya Shinta dengan nada menenangkan. Setidaknya, nada menenangkan untuk Rama.

“Baik. Kamu lagi senggang ngga?”

“Ya, untuk kira-kira sepuluh menit ke depan sih senggang. Ada apa?”

“Aku mau kasih sesuatu ke kamu.”

“Oya? Apa tuh?”

Rama memperhatikan Shinta dengan seksama. Wajah Shinta tidak berubah. Padahal nada suaranya tampak ekspresif.

“Undangan.”

“Undangan apaa?” Shinta menggoda. Tapi wajahnya tidak berubah.

Jantung Rama berdetak lebih kencang. Ia tahu ia berharap Shinta akan setidaknya memberikan sedikit ekspresi, kalau bisa ekspresi penyesalan, setelah mendengar kalimat selanjutnya.

“Undangan pernikahan aku sama Talia.”

“Waaah! Selamaat! Kapan nikahnya?” Jawab Shinta dengan nada bahagia. Kali ini, ekspresi wajahnya ikut senang.

Rama kecewa. Ia selalu berharap kalau Shinta akan kehilangan dirinya seperti ia kehilangan Shinta. Ia berharap Shinta tahu usaha Rama untuk memahami Shinta. Ia berharap Shinta tahu usaha Rama untuk memahami rasa teh kesukaan Shinta. Ia berharap Shinta juga berusaha untuk menyukai kopi kegemaran Rama.

“Ram?” tanya Shinta. Ia heran mendadak suara di seberang teleponnya hilang. “Rama?”

“Ohh… Halo? Sori, gue lagi nyetir” dusta Rama. Tidak mungkin ia mengaku ke Shinta kalau dirinya adalah pria dengan teropong jarak dekat yang hanya berjarak 20 meter darinya di restoran yang sama. Hanya saja Shinta duduk di teras lantai satu, Rama di teras lantai dua.

“Ooh. Iyaa selamat! kapan nikahannya?”

“Nanti aku kasih undangannya ya.”

“Aku lagi sibuk sih seminggu ini, kalau mau, kamu kirim aja ke rumah aku.”

“Hahaha, sempet lah, kalo cuma kasih undangan.” kata Rama.

“Okeee. Eh, hati-hati jangan telpon sambil nyetir. Udahan dulu yaa!”

“Okee. Daaah…”

Shinta mematikan saluran telepon mereka.

Rama masih memperhatikan gerak-gerik Shinta, berharap ada ekspresi lain yang ia harapkan setelah Shinta memutuskan saluran telepon mereka, selain senyuman Shinta saat meneguk secangkir teh Earl Grey yang masih hangat dan menenangkan.

Terganggu Batu

Diatas tempat tidur Luna ada sebuah batu.

Ukurannya sekepalan tangan rata-rata tangan perempuan Indonesia.

Warnanya hitam, tapi sayangnya orang biasa tidak bisa melihatnya.

Batu ini membuat Luna kesulitan tidur. Kadang ia dapat tidur terlelap. Kadang paling lama hanya empat jam. Tapi seringnya ia hanya bisa terlelap selama dua jam. Kasihan.

Pernah suatu hari temannya bernama Dara menginap. Ketika itu batu tersebut bergeser ke bagian Dara tidur, sehingga Luna dapat tidur nyenyak. Besoknya, Luna tidak bisa tidur lagi.

Malam-malam berikutnya, Dara kembali menginap. Kali ini batunya ada di bagian Luna tidur, makanya Luna tidak bisa tidur nyenyak.

Luna kekurangan tidur. Ia lebih sering tertidur di meja ketika mengerjakan tugas atau di sofa ketika menonton TV. Akan tetapi kalau ia terbangun dan kembali ke tempat tidurnya, ia kembali sulit tidur.

Semua ini karena ada batu diatas tempat tidur Luna.

Warnanya hitam halus.

Ukurannya kurang lebih sebesar telapak tangan Luna.

Namun Luna tidak bisa melihatnya.

Kasihan Luna, ia jadi tidak bisa tidur dengan nyenyak.