I feel you

John Mayer once said in rows of melody,
” So I’ll check the weather wherever you are
‘Cause I wanna know if you can see the stars tonight
It might be my only right ”

i hope you still see the stars
without fears
pain and sorrow will fade away
i hope you still see the glow of the night
without tears
close your eyes slowly
feel it calm into your soul
don’t feel bad
let the cold of night giving yourself an inner warm

i’m hold you,
feel you,
(from)here.

 

 

Advertisements

Doa

7 tahun…?
bukanlah waktu yang singkat
untuk aku mempertahankan adanya dirimu dalam pikiranku.
Mungkin adanya hadirku dalam hidupmu,
bukanlah sesuatu yang berefek panjang, tapi tidak untuku.
Kamu manusia yang paling sulit dilupakan.

Mungkin aku pernah mencoba belajar
untuk terbiasa dengan yang lain demi melupakanmu
tetapi setelah akhirnya kita sama-sama sendiri lagi
Tuhan seakan menghadirkan kamu kembali dalam pikiranku
Akupun tidak tahu apa maksud-Nya?
Aku hanya bisa bertanya untuk mencari jawaban itu

dalam setiap harapan dalam doa di lima waktu ibadahku

Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain melalui doa kepada-Nya
karena aku percaya kekuatan doa bisa melewati batas ruang dan waktu
Aku juga masih percaya bahwa

Yang Maha Pengasih dan Penyayang akan menyiapkan waktu terbaik untuk mempertemukan kita kembali
menyambung tali silaturahmi kita kembali
entah sampai ke jenjang yang mana
Semoga Yang Maha Esa, tetap menjaga hati kita untuk dekat kepada-Nya sebelum kita didekatkan satu sama lain.

Dari perempuan yang tidak sesempurna itu untukmu.

Untuk dan Atas Nama Bahagia, Maka Gue Putuskan…(3)

[ JAKARTA, di hari bahagianya]

Pagi ini Jakarta terlihat agak gelap langitnya, padahal menurut perhitungan bulan sih seharusnya sudah mulai musim panas sekarang. Gue duduk di pinggir jendela sambil menikmati segelas kopi sembari melihat keadaan pagi di sekitar rumah gue. Ah, gue memang kangen banget sama Jakarta. Hari ini gue memang di Jakarta dan hari ini adalah hari bahagia Nadia. Sounds perfect, Yap pastinya juga hari ini gue berdandan lebih rapih dari biasanya.

Gue pergi dijemput oleh Farid, karena dia tau gue udah lama lupa sama jalanan Jakarta. Gue lebih banyak diam selama di perjalanan, gue lebih merasa nyaman untuk melihat kearah jalanan kota yang gue rindukan ini.

“ Eh teman gue ini kuliah di London malah jadi kalem ya.hahahaha”, ujar Farid    sambil menepuk bahu gue dan memecah lamunan gue yang daritadi hanya melihat keluar jendela

Hingga kita sampai disana dan gue bertemu dengan Nadia. Hari ini dia sangat cantik dengan gaun putih panjang yang membungkus tubuh mungilnya. Ia tersenyum ke gue lalu ia sedikit merunduk , gue pun juga hanya bisa menyapanya lewat senyuman. Lalu ia melangkah menuju sebuah kursi yang gue lihat sebelahnya masih kosong. Tak lama ada yang menghampirinya… Ya sosok gagah itu datang mengisi kursi yang disebelahnya. Mereka saling tersenyum namun agak sedikit tersipu malu.

“ Baiklah, kita bisa mulai acara akad nikahnya ya?”, ujar seorang bapak yang berada di hadapan mereka.

Hingga akhirnya kata “sah” sudah dilontarkan oleh kedua saksi diikuti raut wajah bahagia dari hadirin yang ada disana, termasuk gue. Sudah gue bilang memang ini hari bahagia Nadia, yang menemukan kebahagiaan sejatinya bukan pada diri gue tetapi kepada pria itu. Pria yang bukan hanya sekedar memberikan kebahagiaan saja tetapi juga melengkapi hidupnya. Lagipula pria itu sudah jauh lebih mapan dari seorang Taufan yang baru saja akan diwisuda dan lebih banyak punya waktu untuk Nadia dibanding gue , tanpa Nadia harus susah payah meluangkan waktu kosongnya.

“ Fan….”, ucap Farid sedikit lirih dengan raut wajah seperti berkata “are you okay?”

“ No problem bro”, gue membalasnya dengan senyum yang setulus mungkin gue tampakkan.

Untuk dan atas nama bahagia, maka gue putuskan untuk melepasnya

Taufan Bagaskara.

Untuk dan Atas Nama Bahagia, Maka Gue Putuskan…(2)

………

Ternyata hubungan jarak jauh itu unik juga, dan menurut gue ini adalah seni dalam menjalani sebuah hubungan. Gue dan Nadia masih sering video call via Skype kalau weekend , sampai kadang kadang kita ketiduran di depan laptop, atau sekedar berbalas chat. Gue nikmatin itu semua dan gue jalanin dnegan ikhlas, karena gue percaya tadi “ Distance means nothing when someone means everything”  ya artinya jarak itu bukanlah sebuah hambatan untuk melemahkan hubungan. Ohya pernah sekali waktu kita saling kirim hadiah ulang tahun satu sama lain, ya karena ongkos ekspedisinya mahal jadi harus ditabung dari jauh jauh hari.  Lucu banget, gue enggak nyangka LDR bakal selucu ini. Walaupun dalam hati gue gak pernah bisa bohong kalau gue kangen banget sama Nadia dan pengen ketemu secara langsung.

Setahun, dua tahun kita LDR dan gue ngerasa walaupun jauh hubungan kita semakin kuat. Ya kadang emang pernah ribut ribut kecil sih, tapi toh selama ini masih bisa diselesaikan. Gue merasa lega, masih bisa membuat Nadia bahagia walaupun engga di dekatnya. Sampai akhirnya, memasuki semester yang cukup sibuk bagi gue dimana gue diajak sebagai mendaftar sebagai salah satu tim untuk maju kedalam sebuah kompetisi  yang akan mewakili kampus. Awalnya gue bingung karena gue merasa enggak sepinter temen-temen gue yang lain, dan dari tim itu cuman gue yang dari Indonesia..bahkan orang Asia. Sambil menakar baik baik tawaran teman, gue sharing juga dengan keluarga dan tentunya Nadia.

Tanggapan dari keluarga gue positif, mereka justru sangat mendukung gue dan bangga sama gue kalau bisa sampai lolos sampai final di kompetisi tersebut. Nadia pun memiliki jawaban yang sama akan itu, walau gue harus jujur kalau kita berdua akan sangat jarang untuk berkomunikasi. Nadia juga di semester ini sedang banyak praktikum yang membuat dia sibuk.Tenang aja Nad, kamu akan bahagia kalau aku bisa jadi juara.

Selama proses gue latihan lomba gue tetap berusaha menguhubungi Nadia lewat e-mail. Sebulan awal semua masih lancar, masih saling membalas pesan satu sama lain. Sampai pada saat Nadia lama sekali enggak membalas e-mail gue. Ya gue wajar aja sih mungkin dia juga sibuk, dan enggak terlalu gue pikirin karena harus fokus latihan sama tim gue disini.

Dua bulan..tiga bulan… Nadia semakin jarang membalas e-mail gue. Sebenernya gue jadi agak sedih, gue takut karena gue yang telalu sibuk disini jadi engga punya waktu untuk sekedar buka Skype atau meninggalkan voice note kepada dia. Sabar ya Nad, aku janji liburan ini akan pulang ke Jakarta. Hal ini bikin semangat latihan gue sedikit turun, tapi beruntunglah teman-teman satu tim gue selalu memberikan semangat pada gue.

Memasuki bulan keempat dimana gue dan tim harus berangkat ke Washington DC untuk kompetisi tersebut. Pada pagi itu gue cek email engga ada pesan dari Nadia, gue menghela nafas dan sedikit sedih tapi gue harus tetap semangat demi membawa nama alamater kampus dan Indonesia.Gue hanya meninggalkan pesan sedikit

“ Hai Nadia, hari ini aku akan berangkat ke Washington DC selama 5 hari. Doakan aku dan teman-temanku bisa menang ya. Semangat terus sayang kuliahnya 🙂 

Ps: aku akan mempercepat jadwal kepulanganku ke Jakarta loh “

 Gue yakin pasti Nadia akan balas, dan harus gue ikutin saran teman gue Pieter untuk tidak mengecek email  atau apapun agar gue merasa surprise di akhir nanti jika membuka e-mail dari Nadia, terlebih kalau bisa menang. Wah ini pasti akan menjadi berita bahagia untuk dia.

5 hari di Washington, 5 hari perjuangan bersama teman teman, 5 hari untuk mengharumkan nama almamater kampus, 5 hari gue bisa bangga sebagai satu satunya orang Indonesia dari kampus gue, 5 hari untuk membuat bangga keluarga gue dan 5 hari menahan diri untuk bisa kembali berkomunikasi normal dengan Nadia.

Syukur Alhamdullilah, semua proses yang kami jalanin disini berjalan lancar. Gue juga senang punya banyak teman baru dari berbagai negara, dan banyak pengalaman yang gue dapet selama disini. Alhamdullilah juga kampus kebanggaan gue berhasil menjadi juara 1 dan dapet award best memorial.  Yes, gue berhasil bikin bangga keluarga gue dan pastinya Nadia!! Gue gak sabar banget mau kirim email dengan banyak cerita dan hanya hitungan hari gue juga akan pulang ke Jakarta!!

From: nadia.risyana@gmail.com

to: taufanbagaskara30@gmail.com

Message: Taufan, maafin selama ini ngilang…maaf lagi kalo……….

Bersambung….

Untuk dan Atas Nama Bahagia, Maka Gue Putuskan… (1)

  “ Distance means nothing when someone means everything

Wah, gue percaya banget ssama quotes itu dan selalu gue pegang demi menjaga kebahagiaan gue dan dia. Iya, dia. Dia selalu menjadi rumah untuk aku kembali.

Namanya Nadia, kembang sekolah bahkan kembang kampus. Bodoh saja kalau orang bilang dia jelek. Kalau dia sekali lewat di depan koridor siapapun pasti terpana dengan pesonanya. Selain dia cantik, dia juga pintar, baik dan tidak sombong.Lalu gue ? Gue adalah cowok yang paling beruntung punya pacar kayak Nadia. Padahal ya kalau dilihat lihat tampang gue pas pasan banget ( hmm menuju lumayan sih ,hehe) dan sering banget jadi bahan kecengan teman teman gue

“Halah paling Nadia mau sama lo juga gara gara lo pelet kan , Fan? Hahahaha “

       Biarlah saja, gue paham mereka bercanda. Yang paling penting adalah gue akan selalu membuat Nadia bahagia, karena dengan kehadirannya di hidup gue telah membuat gue bahagia. Nadia adalah sosok perempuan yang dapat menerima kekurangan gue dan bisa menghargai apapun yang gue lakukan, dan walaupun banyak laki-laki yang berusaha menggoyahkan keyakinannya atas gue tetapi ia tetap setia sama gue. Maka dari itu gue berjanji engga akan pernah berhenti membuat dia bahagia walaupun dengan cara yang sangat sederhana.

Hubungan kita sudah berjalan menuju 3 tahun dan kita lulus SMA. Sayangnya, gue harus melanjutkan pendidikan tinggi gue ke London. Gue berhasil mendapatkan beasiswa untuk kuliah disana, dan gue bahagia karena ini adalah impian gue sejak lama. Tetapi hal itu yang membuat gue dan Nadia harus masuk ke dalam zona “ Long Distance Relationship” , awalnya Nadia sedih banget karena gue harus berada jauh dari dia. Ya gue paham sih gue juga sedih banget, yang biasanya sehari-hari bareng satu sekolah bahkan pernah satu kelas tapi harus pisah engga cuman kampusnya, kotanya, bahkan kita pisah negara dan benua.. Tapi bagaimanapun ini adalah keadaan yang harus kita jalanin.Gue berusaha ngasih pengertian ke Nadia untuk tetap kuat ngejalanin hubungan jarak jauh ini, toh ada banyak teknologi yang bisa membuat kita tetap terkoneksi satu sama lain.

Bersambung….

Putri dan Pangeran

large (19)

Sabtu, 7 Maret 2015.

Kafe bilangan Tebet, Jakarta Selatan

Hari ini aku akan bertemu dengan dia lagi, perempuan yang membuatku merasa bodoh untuk tidak sempat memilikinya. Mungkin dulu waktu zaman kita masih dibalut seragam putih-abu abu ,dia bukanlah tipikal perempuan berparas cantik ataupun anggota geng anak-anak gaul sekolah, tetapi kecerdasan dan inner beauty-nya luar biasa. Selain cerdas, juga seorang yang sederhana dan rendah hati. Entahlah, aku ini begitu bodoh yang lebih memilih Annika karena dia lebih populer dan karena juga kata-kata keroyokan dari peer groupku ,

 

“ Aryo.. aryo masa cowok ganteng se sekolah gabisa sih dapetin Annika si kapten Cheerleader itu ? Malah seringnya deket sama Putri yang nerd kayak begitu, gak asik lo ah hahaha “

“ Gila sih lu yo, Annika selama ini kurang kode apa sama lu? Masih mau cuekin perhatian dia nih?”

Sejak hari aku jadian dengan Annika, tidak ada kebahagiaan yang berarti juga untukku. Terlihat jelas Putri selalu menghindariku entah kalau di kantin, atau di perpustakaan. Mungkin dia sakit hati karena kita beberapa bulan terakhir sebelum aku jadian dengan Annika , kita benar benar dekat sampai kita sama sama menjadi volunteer di sebuah rumah belajar untuk anak-anak jalanan setiap hari Sabtu. Setelah aku jadian juga Putri ganti jadwal mengajar jadi hari Minggu demi menghindariku. Tetapi semua itu berjalan hanya sebulan,karena Putri harus berangkat ke Amerika karena lolos program student exchange selama setahun. Namun, setelah setahun dia memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah di Indonesia, ia mendapat beasiswa lagi untuk kuliah disana. Kita benar-benar lost contact sejak itu. Hubunganku dengan Annika juga hanya bertahan hingga lulus SMA saja.

Kembali pada hari ini, akhirnya kita bisa menentukan waktu untuk saling bertemu. Aku mendapatkan kontaknya lagi ketika ada reuni SMA seminggu yang lalu. Aku benar-benar tidak sabar untuk bertemu dengan dia, dan mungkin ini waktu yang tepat untuk membicarakan perasaanku dengan dia ? Ya, kita coba usahakan saja…

Dia akhirnya datang juga, cantik sekali dia malam ini. Tampak berbeda dengan ia yang cuek waktu SMA, mungkin karena sudah dewasa juga.

“ Hai Aryo, maaf ya lama tadi gue kena macet”,  gaya berbicaranya tetap sama halus dan santun

“ Hahaha santai aja Put, gue juga baru 15 menitan yang lalu. Tapi udah gue pesenin minum kok”

“Wah wah makasih banyak yaa, apa kabar  Yo? Kerja dimana sekarang ?”

Kita berbincang layaknya kawan yang sudah lama tidak bertemu, tentang pekerjaan, atau teman-teman sekolah kita yang sekarang menyebar dimana-mana. Hingga satu jam pertama waktu tidak terasa..

“ Eh Put gue mau ngomong sesuatu deh”

“ Mau ngomong apa sih Yo?… hmm eh tunggu dulu deh ada yang mau gue kasih ke lo nih”, ia tampak mencari-cari sesuatu di tasnya, Aku pun ikut bingung apa yang ia cari dan akan ia serahkan untukku. Ternyata bentuknya seperti undangan, dengan ukuran yang tidak terlalu besar

“Undangan dari siapa Put? Temen kita ada yang mau menikah?”, ucapku heran

“ Baca dong itu namanya siapa, Yo!”, ia berbicara sedikit tertawa tawa

Undangan Pernikahan

Bagas Revanda & Putri Prawinda

 

 

Astaga.

Dia.

Benar-benar mau menikah.

Dia.

Yang ada di hadapanku ini……..

Entahlah, aku tidak bisa lagi menggambarkan rasanya seperti apa.

“Masih ingat Kak Bagas kan Yo? Ituloh senior kita, mantan ketua OSIS dan atlet basket sekolah!!” , wajahnya sangat sumringah

“Iya..masih kok”, jawabku lesu

“ Hahaha enggak nyangka kan lo pasti gue bisa mau nikah sama dia… Ternyata dia satu kampus sama gue waktu di USA, duhh Kak Bagas tuh romantisssss banget…..”, ucapnya dengan mata yang berbinar-binar. Seakan dia menemukan sesuatu yang bisa melengkapi dirinya, ia menceritakan panjang lebar akan hidupnya yang semakin bahagia setelah mengenal lebih jauh Kak Bagas.

“ Pokoknya harus dateng ya! Harusnya gue kasih undangan pas acara reuni kemarin tapi punya lo dan beberapa orang ketinggalan, jadi baru sempet sekarang sekarang kasihnya”, tambahnya dengan begitu bahagia, aku hanya bisa membalasnya dengan senyum simpul

“Ohya jadi lupa tadi lo mau ngomong apa Yo?”, ia bertanya dengan wajah penasaran

“ Gak jadi Put ”, aku sedikit merunduk.

Hening sesaat….. Hingga dia telah dijemput oleh pangerannya di depan cafe. Ya, pangeran yang sama cerdasnya, yang dengan bijak untuk memilih dirinya. Kamu memang derserve better Put, bukan dengan ku laki-laki bodoh yang harus kehilanganmu,yang terpengaruh oleh orang lain untuk bisa mencintai orang lain. Padahal, cinta adalah rasa yang tidak bisa dipaksakan, sekalipun dibiasakan.

Teruntuk Putri yang telah menemukan pangerannya,

Semoga bahagia selalu menyertai kalian,

Aryo Kartasasmita.