Anak Gadis Berbaju Putih

Aku berjalan sendirian menuju rumahku, mungkin dalam waktu 5 menit aku akan segera sampai. Aku tinggal di sebuah perumahan di pinggir kota, suasana di sini sangatlah tenang dan menyenangkan, tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi.

Tapi malam itu suasana sangat berbeda, malam begitu sunyi, sinar bulan purnama timbul tenggelam karena langit yang mendung, angin bertiup begitu keras, memainkan suara gemerisik keras diantara rindanganya pepohonan.

Saat mendekati persimpangan, aku mendengar tawa anak kecil yang riang, aku mencari darimana suara itu berasal. Ketika aku melihat kesebelah kiri, aku melihat sesosok anak kecil berbaju abu-abu berlari kecil dengan riang di ujung persimpangan jalan yang lain.

Aku terkejut, orang tua mana yang memperbolehkan anaknya keluar jam segini. Tiba-tiba, angin kencang berhembus, membawa butiran-butiran debu yang membuat mataku perih. Aku menutup mataku.

Tak lama setelah angin berhenti berhembus, seseorang menarik bajuku, lalu ku mendengar suara anak perempuan bertanya
“Ada apa Kak? Kok kakak dari tadi memandangku dari kejauhan?”

FIN

Advertisements

Kereta Pukul 08.00

Kereta itu melaju.
Jadwal keberangkatan jam 08.00.
Penuh sesak dengan penumpang yang hendak berangkat kerja

Tahukah kalian?
12 rangkaian kereta itu terguling tak jauh dari stasiun keberangkatan.
Patah rel menjadi penyebabnya.
Banyak yang terluka.
Banyak pula yang tak bernyawa.
Tentunya, peristiwa ini begitu mengagetkan, semua orang

Tapi tahukah kamu apa yang paling kusesali sekarang?
Aku yang memaksakan diri untuk masuk ke dalam kereta.
Menyikut orang lain agar ia turun dari gerbong kereta.
Aku menyesal, tak mendengarkan himbauan petugas.
Untuk menunggu kereta selanjutnya.

Aku sekarang hanya bisa pasrah.
Menunggu hari dimana apa yang kuperbuat diminta pertanggungjawabannya.

Gadis di Peron 4

Sendiri aku menunggu, tanpa kepastiaan.
Aku tidak pernah tahu kapan ia akan datang, ia begitu tak bisa ditebak,
Kadang ia datang, kadangpu ia tak telihat.
Wahai gadis di peron 4, kemana kau akan  melaju?

Parasnya menawan, ia tinggi semampai, berambut hitam legam yang acap kali dikuncir, kadang ia memakai kaca mata, kadang tidak.

Yang paling ku ingat darinya adalah bibir merahnya.
Tuhan memberinya garis bibir yang tipis, yang tampak sangat menawan ketika lipstik merah dikenakan di atasnya.

Aku tak pernah tahu namanya, akupun tak pernah mendapatkan kesempatan untuk bertanya.
Ia begitu jauh dariku, mungkin karena ketidakberanianku, aku hanya bisa memandangnnya dari kejauhan, wahai gadis di peron 4.

Pukul tujuh pagi, ia sudah berdiri di peron Stasiun Bekasi, menunggu kereta yang akan berangkat lima menit kemudian.

Gerbong favoritnya adalah gerbong kelima, karena ketika nantinya ia turun di Stasiun Klender, ia bisa bergegas berlari ke gerbang keluar, mengunggulin penumpang-penumpang yang lain.

Aku mengasihi diriku sendiri atas ketakuatanku untuk berkenalan denganmu,
Tapi tak apa,
Memandangmu dari jauh sudah begitu membahagiaku.

Karena, mungkin saja ketika nanti aku berkenalan denganmu, kau akan memilih untuk menjauh dariku.

Biarkan saja keadaan seperti sekarang ini,
Wahai gadis di Peron 4.

Perempuan Itu (Part 3)

Ciuman pertama kami terjadi tanpa rencana.

Aku ingat tangannya yang menggenggam tanganku. Aku menarik tubuhnya mendekat. Mendekapnya.

Perlahan aku merasa ada yang hangat mengalir. Air mata-nya.

Dia masih teringat laki-laki itu.

Aku hanya bisa memeluknya dan menenangkan dirinya.

Maaf,” ucapnya sembari menghapus air mata. Ia mencoba tersenyum. Aku hanya bisa memandang matanya yang basah dan mengusap pipinya.

Ada rasa cemburu karena aku bisa melihat jelas bayangan laki-laki itu di mata-nya.

Cemburu?

Aku langsung teringat pacarku yang selalu termakan api cemburu. Pacarku berbeda dengan dia. Dengan dia, aku bisa meluapkan kekesalanku dan rasa bosanku. Dengan dia, aku bisa memeluknya bebas di depan umum. Dengan dia, kami bisa tertawa bersama ataupun berdiskusi serius hingga larut malam. Dengan dia, ciuman ini terasa berbeda.

“Mungkin lebih baik kita pulang,” katanya sembari membereskan barangnya. “Mood-ku sedang tidak baik”

Matanya menatap nanar handphone dengan layar gelap di ujung meja.

Dia masih berharap dihubungi laki-laki itu. Hey, ada aku disini.

Aku mengangguk enggan. Dalam hati aku berjanji untuk mengembalikan cahaya bintang di matanya.

“You know what. I’m hungry. Wanna have McD before we go home?”

I just need more time with you, and your biggest weakness is food. 

Dia tersenyum lebar dan tertawa, “an ice cream wouldn’t hurt”

Aku tidak bisa menyembunyikan senyum kemenanganku. Another hour with her is what I need now. Walaupun akhirnya hanya dihabiskan dengan mengutuk politik negeri ini.

Angin dan Gelap

Kau tahu apa yang paling menyengsarakan manusia di malam hari? Ketika ragamu tertidur tetapi pikiranmu menolak untuk beristirahat, pikiran yang tetap hidup walau mata sudah tertutup.

Ketika Ia semakin liar dalam tidur, kau takkan merasa cukup beristirahat. Pikiran seperti itu ibarat mesin yang terus menyala dan tak tahu kapan ia berhenti bekerja.

Malam itu, hujan rintik-rintik turun membahasi bumi yang tengah terlelap, rasanya aku terbangun dari tidurku, hawa dingin membangunkanku, dinginnya menusuk tajam ke tubuhku, berlapis-lapis selimut tebal tak mampu menahan hawa dingin, malam itu.

Aku berupaya untuk kembali ke buaian malam, tapi mataku menolak, aku dipaksa bangun, sendirian ditengah malam dan menyambut kegelapan.

“Hai Gelap” Sapaku pelan, tetapi ia hanya diam tak menjawab, “Hai gelap!!” Ku ulangi sapaanku, mungkin ia tak mendengar kala aku panggil pertama kali, untungnya kali ini ia membalas sapaanku.

Ia kemudian bertanya kepadaku, mengapa aku terjaga disaat semua orang terlelap dalam buaian malam, akupun menjawab

“Malam ini begitu dingin, entah mengapa? Hawa dingin membuatku tak bisa tidur!” Gelap menatapku dengan penuh iba, iapun pamit untuk pergi sebentar sekaligus berjanji padaku untuk membantu mengatasi hawa dingin yang menusuk ini.

Gelappun datang kembali kehadapanku, tetapi ia tidak sendiri, ia bersama dengan hal lain, ia datang bersama dengan Angin.

Aku menyapanya, dan bertanya kepadanya mengapa hari ini tiupan angin yang berhembus membawa hawa yang begitu dingin. Iapun menjawab bahwa hari ini merupakan hari kesedihan buatnya.

“Mengapa kau sedih, wahai Angin?” aku bertanya, tetapi Angon tetap diam tak menjawab dan memilih untuk pergi.

Aku hanya terdiam, mungkinkah aku salah bertanya, ketika aku bertanya pada Gelap, iapun tidak tahu.

Gelappun pamit undur diri padaku, karena tugasnya mengawal malam hampir selesai, akupun melirik ke jam yang terpatri di dinding kamarku, “Ah, Fajar telah datang ternyata…”

Aku terdiam termenung, menikmati gradasi wartan yang menghiasi langit pagi itu, ketika sang hitam perlahan pergi digantikan dengan terangnnya warna fajar yang naik perlahan.

Hari barupun telah datang, dan malam ini aku belajar dari Angin bahwa tak semua kesedihan bisa dibagi dan diceritakan, walaupun yang bersedih tak sadar kesedihannya telah mempengaruhi orang lain dan sekitarnya.

FIN

Mimpi

Mimpi atau juga dikenal sebagai bunga tidur bukan hal yang biasa dalam tidurku.

Aku merasa jarang bermimpi, entah karena aku tidak ingat tentang mimpiku atau memang tidak ada mimpi yang hinggap dalam lelapku.

Tapi di suatu malam aku bermimpi.

Bukan mimpi indah atau mimpi menyeramkan, bukan pula mimpi dengan hal-hal aneh.

Itu hanya mimpi dimana aku dapat bertemu dengannya kembali.

Ya, ternyata aku bisa bertemu dia sekali lagi.

Ya, ternyata aku bisa melihat wajah itu sekali lagi.

Ya, ternyata aku bisa mendengar suara tawa itu sekali lagi.

Ya, ternyata aku bisa memperhatikan cara bercerita itu sekali lagi.

Dan ya, ternyata aku bisa merasakan dia dekat sekali lagi.

Hai mimpi, terimakasih.

Ditulis oleh Alfitria Maharani

Akhir Sebuah Awal

Handphoneku berbunyi menandakan ada notifikasi masuk pada media sosial yang diriku lumayan aktif melakukan ke-alay-an di dalamnya. Ternyata notifkasi adanya permintaan untuk menjadi pertemanan. Melihat mutual friends yang cukup banyak tanpa melihat profilnya lebih dalam langsung saja aku klik tombol ‘accept’. Kebiasaan buruk memang, hanya melihat dari mutual friends yang banyak merasa bahwa orang tersebut masih masuk dalam lingkaran sosial kita.

*********

Seperti biasa kala bosan mulai menyerangku, hal yang bisa kulakukan untuk mengusirnya adalah membuka halaman media sosialku. Menjadi sebuah hiburan tersendiri melihat ragamnya postingan demi postingan orang. Entah itu isinya menghujat pemerintah, mendukung pemerintah, quotes dari motivator dewa, ajakan kebaikan, dan kadang hal-hal tidak penting. Ah, ternyata ada satu temanku suka sharing foto-fotonya dan caption-nya pun menarik. Tapi, kok namanya terasa asing bagiku. Siapakah dia? Mungkin salah satu junior di tempat aku menuntut ilmu. Melihat kata-katanya dalam gambarnya, rasanya dia habis mengalami sakit hati. Entah kenapa aku menjadi tertawa sendiri dalam hati. Kau tidak sendirian ternyata,kata-kata dalam pikiranku.

**********

Sudah banyak kisah yang kutulis, banyak pula yang berakhir tidak indah. Apakah memang aku penulis yang selalu mengakhiri kisah dengan kesedihan? Aku tidak tahu, karena apa yang aku tulis hanya dilandasi oleh perasaan. Banyak kertas-kertas yang pada akhirnya menjadi tempat favorit debu untuk bersemayan di pojok ruangan. Walau terkadang aku sesekali suka membacanya kembali dan ingin memperbaikinya, tetapi apa daya kisah itu tidak dapat diperbaiki karena memang sudah jelas akhirnya tidak akan berubah.

Handphoneku berbunyi, membuyarkanku dari lamunanku. Sebuah pesan masuk dari pemilik akun yang postingannya menjadi perhatianku belakangan ini. Kami menjadi teman diskusi dalam hal penulisan. Kami pikir, kami dapat melakukan kolaborasi dalam penulisan. We share same ideas, have same way of thinking, and have same tragic past. Kami pikir, yeah, we think, sampai saat ketika kami lagi sharing ide, dan kami mengetahui bahwa kami tidak akan berkolaborasi.

*************

Tidak lama setelah diskusi kami yang terakhir itu, saat aku sedang menghilangkan kebosananku bersama media sosialku, aku lihat ada sebuah postingan foto dengan caption “kisah yang ingin aku mulai ternyata harus berakhir lebih dahulu”.

Ditulis oleh drh. Muhammad Ridwan