Anak Gadis Berbaju Putih

Aku berjalan sendirian menuju rumahku, mungkin dalam waktu 5 menit aku akan segera sampai. Aku tinggal di sebuah perumahan di pinggir kota, suasana di sini sangatlah tenang dan menyenangkan, tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi.

Tapi malam itu suasana sangat berbeda, malam begitu sunyi, sinar bulan purnama timbul tenggelam karena langit yang mendung, angin bertiup begitu keras, memainkan suara gemerisik keras diantara rindanganya pepohonan.

Saat mendekati persimpangan, aku mendengar tawa anak kecil yang riang, aku mencari darimana suara itu berasal. Ketika aku melihat kesebelah kiri, aku melihat sesosok anak kecil berbaju abu-abu berlari kecil dengan riang di ujung persimpangan jalan yang lain.

Aku terkejut, orang tua mana yang memperbolehkan anaknya keluar jam segini. Tiba-tiba, angin kencang berhembus, membawa butiran-butiran debu yang membuat mataku perih. Aku menutup mataku.

Tak lama setelah angin berhenti berhembus, seseorang menarik bajuku, lalu ku mendengar suara anak perempuan bertanya
“Ada apa Kak? Kok kakak dari tadi memandangku dari kejauhan?”

FIN

Advertisements

Kereta Pukul 08.00

Kereta itu melaju.
Jadwal keberangkatan jam 08.00.
Penuh sesak dengan penumpang yang hendak berangkat kerja

Tahukah kalian?
12 rangkaian kereta itu terguling tak jauh dari stasiun keberangkatan.
Patah rel menjadi penyebabnya.
Banyak yang terluka.
Banyak pula yang tak bernyawa.
Tentunya, peristiwa ini begitu mengagetkan, semua orang

Tapi tahukah kamu apa yang paling kusesali sekarang?
Aku yang memaksakan diri untuk masuk ke dalam kereta.
Menyikut orang lain agar ia turun dari gerbong kereta.
Aku menyesal, tak mendengarkan himbauan petugas.
Untuk menunggu kereta selanjutnya.

Aku sekarang hanya bisa pasrah.
Menunggu hari dimana apa yang kuperbuat diminta pertanggungjawabannya.

Warisan

“Hey, buku-buku apa yang ada disini?” Tanyaku kepada Elly, sahabatku.

“Hanya buku-buku tua saja, kau berminat? Kalau ada yang kamu suka kau bawa saja!” Ucapnya, mengizinkan.

Aku duduk, memilah buku-buku itu, banyak buku yang sudah rusak dan tidak bisa dibaca, lapuk karena usia, terkena noda air, jahitannya lepas. Sangat disayangkan karena banyak buku-buku menarik disini.

Aku menemukan banyak buku yang berkaitan dengan sejarah serta perang dunia, mungkin karena kakek Elly merupakan veteran perang dunia sehingga Beliau menyukai buku-buku tersebut.

“Elly!!, sebaiknya kau buang saja buku-buku ini, sudah banyak yang rusak!” Aku berteriak, memberitahunya keadaannya.

“Untuk itulah aku minta tolong kepadamu!” Ucapnya, diiringi suara tawa.

Aku tahu, hari ini aku dijebaknya untuk membantunya mengurus rumah barunya, rumah itu warisan dari kakeknya, ia baru saja mendapatkannya bulan lalu setelah kakeknya wafat.

“Kau harus mengizinkanku untuk meminjam rumah ini secara cuma-cuma!”

Elly hanya membalasnya dengan tertawa kecil, kemudian ia bertanya “Aku mau membuat sandwich, kau mau isi apa?” tanyanya.

“Daging asap”. Jawabku singkat.

Aku melanjutkan memilah tumpukan buku tersebut, sampai akhirnya aku menemukan sebuah buku harian bersampu kulit berwarna merah, tertulis di sampulnya. “My Evil Diary by Myself”.

Judul yang aneh, pikirku.

Aku membukanya, judulnya membuatku penasaran, mungkinkah ini buku harian yang dituliskan kakek Elly untuk mengatasi trauma pasca peperangan yang dialaminya? Kalau benar, buku ini bisa menjadi bahan penelitianku yang menarik, semoga Elly mengizinkanku untuk menggunakannya.

Halaman pertama berisi daftar isi dari buku tersebut, beberapa judul bab diberikan digarisbawahi, salah satunya bab itu berjudul “My House, My Home”, menarik sekali, mungkin kakeknya menuliskan sesuatu mengenai rumah yang ia wariskan kepada Elly, mungkin ada harta karun yang tersembunyi disini.

Tetapi perkiraanku salah, kakek Elly sama sekali tidak menyembunyikan harta karun di rumahnya, tetapi ia menyimpan rahasia hitam, rahasia gelap mengenai rumah yang diwariskan kepada Elly.

Aku segera menemui Elly di dapur.

What’s wrong Adam? Kenapa mukamu terlihat begitu pucat?” Tanyanya.

“Maaf Elly, aku tak sengaja menemukan buku harian kakekmu dan membacanya, ia menulis hal-hal yang tak kupahami mengenai rumah ini, rumah yang akan kau dapatkan ini.” Jawabku.

“Apa maksudmu?” tanyanya, ia sepertinya tidak mengerti.

Aku mendekatinya, menyodorkan buku harian tersebut kepadanya, ia membacanya,  membaca bagian yang menjelaskan bahwa pemilik baru rumah ini harus memberikan tumbal, iapun melihat potongan foto kakeknya sedang memegang pisau dan berlumurah darah.

“Kau percaya semua ini Adam?” Tanya Elly.

“Tidak, aku tidak percaya sama sekali hal ini” Jawabku.

“Uuppss, seharusnya kau percaya! Menurutmu, buat apa aku mengundangmu hari ini kesini Adam?” Tanyanya. Ia tersenyum ke arahku.

End

The Last Call

Aku hanya bisa memandangi teleponku dari kejauhan. Mungkin dulu dia memang teman baikku, lewat dialah aku bisa menghubungi Lia, menanyakan kabarnya, sedang melakukan apa, dengan siapa ia pergi, apa rencananya di keesokan hari, tapi hari ini itu tak mungkin kulakukan.

Kemarin aku bertengkar hebat dengannya, masalahnya cukup sepeleh, Lia tidak suka melihat keakrabanku dengan temannya, Andin. Aku sudah mejelaskan tidak ada yang istimewa diantara kita tetapi Lia tidak mau percaya.

Sifat keras kepalanya ini yang tidak aku sukai, tetapi apa mau dikata, ia pacarku, aku harus menerima baik-buruk dirinya, sembari berusaha untuk merubah sifat buruknya secara perlahan.

Kalau kami tidak bertengkar, seharusnya ia menemaniku mencari kado untuk ibuku, tetapi apa mau dikata, aku harus mencarinya sendiri sekarang.

“Rudi, ada telepon!!” Teriak Ibuku. Suaranya membuyarkan lamunanku.

“Iya ibu, dari siapa?” Sahutku.

“Tidak tau, dia cuma bilang temanmu…” Jawab Ibu heran.

“Oke bu, aku akan diatas aja”, aku segera menuju telepon sembari berpikir siapa yang menelepon, apalagi menghubunginya telepon rumah.

“Hallo, ini siapa?” Aku penasaran siapa yang menghubungiku, tetapi hanya keheningan yang ku dapat.

“Hallo, ini siapa? Kalau tidak jawab aku tutup…” Ancamku, ku tunggu selama beberapa detik, akhirnya terdengar suara seseorang dari balik telepon.

“Rudi…Rudi itu kamukan?” Ucapnya perlahan.

Suara Lia!, perasaan senang segera muncul dalam diriku.

“Rudi, ini aku Lia, apa kabarmu?” Tanya Lia lembut.

“Aku baik, kamu bagaimana?”

Hening sebentar, “Rudi, maafin aku…, aku salah kemarin. Seharusnya aku tidak overreaction. Aku hanya cemburu buta…” Lia menyesal. “Iya Lia, tidak apa-apa, mungkin salahku juga sehingga kau menjadi cemburu.” Tanggapku.

“Rudi, aku telepon ini juga mau sekalian pamitan, mungkin kita tidak bisa bertemu lagi…”

“Kamu mau pergi kemana…?!” Aku kebingungan.

“Sebentar lagi kamu juga kamu tau aku kemana Rud…” Goda Lia.

Tiba-tiba Ibuku datang, wajahnya panik sekaligus menyiratkan sebuah kesedihan yang sangat mendalam.

“Rudi…, Lia Rudi… Ibu dapat kabar bahwa ia meninggal Rud, kecelakaan…”

 End

The Plan

Sahabat, siapa yang tidak menginginkan punya sahabat? Apalagi jika jalinan sahabat itu bertahan lama. Bukan bermaksud sombong, tetapi itulah sahabat-sahabat yang ku punya.

Aku mempunyai tiga orang sahabat, mereka adalah Rossa, Ridho, dan Yella. Pertama kali kami berjumpa di sekolah menengah atas, pertemanan kami terus berlanjut hingga sekarang, saat kami sudah bekerja.

Hari ini kami berencana untuk sekedar , tempatnya diapartemenku.

“Septian!!, mana ini makanannya?” Tanya Ridho.

“Kau ini, hanya makanan saja yang diurusin, coba bantu-bantu sini di dapur” Protes Yella. “Kalian yakin membiarkanku masuk ke dapur?” Tanya Ridho, ia berdiri hendak bergerak ke dapur.

“Tangkap ini!!” Ucapku.

Dengan sigap Ridho menangkap barang yang ku lempar.

“Cocacola ?!” Tanggap Ridho, kurang setuju.

“Kamu minum saja dulu itu, jangan menggangu urusan dapur, kita ingin makan enakkan hari ini?” Kataku.

“Baiklah!!” Jawab Ridho, ia kembali duduk di kursinya.

Rossapun datang ke ruang televisi, ia membawa mangkuk besar.

“Kau bisa bertahan dulu dengan keripik kentangkan?”

“Perutku sudah sangat lapar sih, tapi tak jadi masalahlah…” Ridho langsung mengambil segengam keripik kentang dan memasukannya ke dalam mulutnya.

Tak berapa lama, Yellapun datang, membawa empat piring chess spaghetti.

“Jadi kapan kita akan pergi bersama?” Tanya Ridho.

“Bulan depan ada long weekend, sekalian ambil cuti aja… Kita bisa pergi seminggu penuh” Saran Yella.

Semua mengganguk setuju.

“Jadi kita mau kemana?” Tanyaku

“ Kalau ke Bali atau Lombok udah biasa, bagaimana kalau kita ke Bunaken saja?” Saran Ridho.

“ Malas aku kalau ke pantai, panas-panasan! Kenapa nggak jalan-jalan ke gunung aja?” Rossa berusaha mempengaruhi yang lain. “Apa enaknya gunung, pemandangannya membosankan, hijau, dingin, nggak seru!!” sanggah Ridho.

“Apa juga enaknya ke pantai, panas dan terik,  isinya pasir sama air asin!!” Balas Rossa.

“Tapi kau bisa mancing disana!”

“Di gunung juga bisa, ada sungai, ada air terjun lagi!!”

“Kalau di pantai kita bisa surfing!”

Merekapun terus berdebat mengenai lebih unggul mana berwisata di daerah gunung atau pantai, sampai akhirnya Yella memisahkan mereka.

Aku memilih untuk tidak ikut campur, berdebat dengan Rossa dan Ridho merupakan pilihan yang buruk, sangat buruk.

Ini kecerian yang selalu menghidupkanku, keceriaan yang selalu ku rindunkan setiap saat. Sahabat-sahabat yang akan selalu ada kapanpun, dimanapun, dalam kondisi apapun.

Aku menutup mataku, sedikit berdoa dan banyak bersyukur atas kondisiku saat ini. Aku terlarut dalam keheninganku saat menutup mata.

“Septian…Septian” Panggil seseorang

Akupun membuka mataku.

Seseorang datang mendekat, dan langsung memeluk erat.

Aku bingung, ada apa ini, kenapa orang ini memelukku begitu erat, dan ia terlihat sangat mengiba. Oh, ternyata ibuku yang memelukku.

“Ibu, kemana yang lain?, sudahkah pulang teman-temanku?” Tanyaku bingung.

“Anakku sayang…, Aku tau ini hari yang berat untukmu…, tapi kamu harus ingat, sahabat-sahabatmu sudah bahagia disana, janganlah kamu mengingat hal-hal yang buruk lagi.

“Tapi mereka tadi ada disini ibu…” Sanggahku, aku lebih percaya mataku dibandingkan dengan perkataan ibuku.

“Sayang, itu hanya khayalanmu belaka…”

Aku terdiam, memandangi meja di depanku, kosong, hanya ada susunan kursi serta piring, gelas dan mangkuk yang kususun sendiri.

Aku sendiri…

Semua sahabatku sudah pergi…

End

Ledakan

BLAAAAARRRRR……

Ledakan keras menghempaskan diriku kebelakang.

Kekuatannya sangat besar, karena menghancurkan hampir setengah dinding kaca gedung berlantai sepuluh serta meruntuhkan kanopi di lobi gedung. Asap hitam mulai membumbung tinggi ke angkasa, teriakan minta tolong dan kesakitan segera menyelimuti ruang udara.

Saat itu sedang berjalan sendirian, hendak kembali ke dalam gedung, kembali duduk di tengah konfrensi kedokteran. Betul sekali, aku ini seorang dokter. Dokter yang punya cita-cita tinggi untuk mengabdi kepada masyarakat.

Aku berusaha bangun, instingku segera bekerja, momen ini merupakan salah satu dimana kesigapan seorang dokter di uji. Pertama-tama aku memeriksa kondisiku, tidak ada luka yang terlihat, aku bahkan merasa sangat sehat.

Aku segera bangkit, ku melihat sekelilingku. Banyak orang panik, lari menjauhi sumber ledakan, beberapa mereka terluka cukup parah, tetapi banyak juga yang selamat tanpa luka yang berarti.

Mataku menatap seseorang berbaju putih yang tergetak bersimbah darah. Aku segera menghampirinya, berusaha memastikan apakah dia masih hidup atau sudah meninggal.

Aku mendekatinya.

Berteriak untuk memastikan api kehidupan dalam tubuhnya yang terkoyak., tapi ternyata api itu sudah padam. Kasian sekali, pria muda ini harus tewas karena tindakan biadab seseorang.

Angin berhebus, menyibak rambut si pria yang sudah kaku tergeletak

Aku berteriak…

Kaget dan tak percaya

Wajah ini aku kenal, wajah yang setiap pagi aku lihat dari balik cermin.

Aku terpenjat

Aku sedang memandangi diriku sendiri

Aku telah mati.

Rasa

Sering kali aku selalu bertanya, Apa alasan Tuhan dalam menentukan jangka waktu hidup seseorang. Mengapa ada orang yang mendapatkan kesempatan untuk hidup lebih dari seratus tahun, dan mengapa ada seseorang yang hanya diberikan hidup kurang dari sehari?

Aku juga sering bertanya, bagaimana Tuhan menentukan cara kematian seseorang, ada yang bertemu dengan kematian dikeliling keluarganya di rumahnya, mengapa ada seseorang yang bertemu dengan kematian sendirian, di tempat yang asing.

Satu misteri lagi yang sering ku tanyakan pada Tuhan, mengapa ada orang yang diberikan mukjizat sehingga kemampuan melebihi orang kebanyakan, mengapa Tuhan memberikan kepadanya keistimewaan, apa yang diinginkan Tuhan melaluinya.

Mungkin, baru saat usia dua puluh tahun aku menyadari kemampuanku ini. Aku bisa merasakan bahaya! Tidak hanya bahaya terhadap diriku sendiri, tetapi bahaya yang mungkin akan menimpa orang-orang yang kusayangi, keluargaku, dan sahabat-sahabatku.

Kemampuanku ini pernah menyelamatkanku dari peristiwa pengeboman di pusat kota. Saat aku berkuliah menjadi saat yang kelam keamanan ibu kota, tindakan pencurian tinggi, pihak keamanan seakan tidak punya kemampuan untuk melindungi warga.

Dalam tingkat kewaspadaan yang tinggi, aku dan sahabatku, Ricky terpaksa harus keluar rumah untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Kami memutuskan untuk menggunakan angkutan umum dibandingkan kendaraan pribadi.

“Mad, kita habis ini transit dimana ya?” Tanya Ahmad, kebingungan.
“Setelah halte ini kita turun Ric!”

Jarang kami memang naik kendaraan umum, karena pada dasarnya kami lebih sering naik motor, tetapi menjamurnya gang motor kriminal membuat kami berpikir seribu kali untuk menggunakan motor pribadi.

Perasaan was-wasku muncul, ketika melihat halte bis, tempat seharusnya kami turun. Langkah kakiku begitu berat untuk bergeser menuju pintu bus. Entah mengapa, badan ini tidak mau mengikuti perintah dari otak. Aku menahan gerak Ricky
Ia memandangku bingung

“Ada apa mad? Bukannya kita turun disini?”
Aku mengelengkan kepalaku, terasa sangat berat, seakan ada beban disekitar kepalaku.
“Kita jangan turun disini!” Ucapku pelan setengah berbisik.

Air muka Ricky menandakan protes, karena dari bus ia bisa melihat papan nama toko tujuan kami, tapi ia memilih untuk tidak melanjutkan, ketika melihat raut mukaku.

Bispun bergerak meninggalkan halte, walaupun aku menjauh dari tujuanku, tidak tanpa penyesalan di diriku, yang ada rasa lega. Awalnya aku tidak tau mengapa rasa itu yang muncul.

“Kamu ini kenapa? Kok, kita tidak turun di halte tadi?”

Baru aku ingin membuka mulut untuk bersuara, tiba-tiba aku melihat kilat cahaya dari arah belakang bus, disusul bunyi dentuman keras. Seluruh kaca bus pecah, serpihan kaca dengan cepat menghantam penumpang bis.

Aku berhasil menghindari beberapa serpihan kaca, tetapi itu tidak berhasil mencegah aku terluka. Aku jongkok, untuk melihat kondisi Ricky, ia terluka cukup parah, tetapi setidaknya, kami terhindar dari ledakan itu, ledakan yang bisa membuat kami hanya tinggal nama.

***

 Itu dulu, di lain waktu, aku juga punya sebuah cerita

Aku baru saja bangun dari tidur singkatku, saat itu aku sedang dalam perjalanan pulang dari berlibur. Saat itu bis sedang dalam keadaan cukup sepi, aku duduk di kursi paling belakang, dihadapkanku cuma ada empat orang, seorang nenek, anak muda yang penuh kebingungan, serta seorang ibu dan anak.

Aku mengalihkan pandanganku ke jendela bis, menikmati indahnya pemandangan pengunungan yang penuh kabut tipis. Aku bersyukur, masih diberi kesempatan untuk melihat indahnya alam di negeri ini.

Ketika bis mulai berjalanan menanjak, rasa itu tiba-tiba datang. Menyelimutiku dalam sebuah kabut kekhawatiran, kecemasan dan ketidakpastian. Aku terhenyak dari kursiku, memandangi secara seksama kondisi di dalam bis.

Si nenek tampak pulas tertidur bersender di dinding bis, si anak muda asik bermain gawai sembari mendengarkan musik, pasangan ibu dan anak tampak diam tidak bergerak, mereka tertidur pulas.

Aku kembali mendapatkan ketenangan, mungkin hanya perasaan was-wasku muncul karena kelelahan saja, tapi aku salah, ketika kupalingkan pandanganku ke kaca spion tengah, kudapati sang supir tertidur.

Aku meloncat dari kursiku, berlari menuju kabin supir.
Tapi aku terlambat.

Bis mulai meluncur tak terkendali, semua orang yang tertidur bangun dan berteriak kencang, ketakutan. Supir bis segera menginjak remnya dalam-dalam, tetapi tak menampakan hasil.

Laju bis tidak bisa dihentikan, aku mendengar supir bis berteriak.

“Loncat dari bis!! Kalau tidak kita nanti masuk ke dalam sungai!!!!” Perintah Si Supir. Ia kemudian membuka pintu dan melompat keluar. Aku ingin segera menyusul, apalagi di sisi kiriku adalah pintu keluar

Tetapi, entah mengapa,

Tubuhku lebih memilih bergerak ke depan, menjemput si anak dan ibunya. Aku mendekatinya, berusaha menjaganya, entah menjaganya dari apa? Tapi aku yakin bahaya akan datang sebentar lagi.

Bis tanpa supir ini meluncur makin kencang, akhirnya aku bisa melihat akhir gerakan bis ini. Ada sungai yang mengalir di ujung jalan menurun.

“Pegang erat bangku ini, jangan sampai terlepas!” Perintahku.

Ibu dan anak itu hanya mengangguk, dari matanya aku tau mereka menaruh harapan besar kepadaku. Harapan agar aku mampu menolong mereka keluar dari situasi yang genting ini.

Bis meluncur deras ke sungai diiringi teriakan Nama-Nama Suci Tuhan.
Aku terpental ke depan, nyaris menghantam kaca bis.
Ibu dan anak berhasil bertahan, walau meringgis kesakitan.

Air dengan deras masuk ke dalam kabin bis, derasnya aliran air mendorong bis ke arah kiri, membuat posisi bis miring.

Setiap manusia normal pasti akan panik jika dalam kondisi seperti ini, tetapi aku merasakan ketenangan, kedamaiannya, aku merasakan ada sesuatu di dalam otakku, sesuatu ide dan keyakinan bahwa aku bisa membantu si Ibu dan anak ini keluar dari kondisi hidup-mati ini.

Aku segera mendorong Ibu dan si anak untuk bergerak ke kabin supir.
“Kita bisa keluar lewat sana!”
“Ibu…, aku takut…!!” Teriak si anak. Ia memeluk erat ibunya.
“Bagaimana sekarang? Ayo kita harus bergegas keluar!!” Teriak Ibunya panik. Aku berusaha menenangkannya, dan berkata “Tenang, kita harus menunggu air penuh…!”
“Kalau begitu, kita tenggelam namanya!!” Si Ibu makin panik. Aku berusaha menahannya berbuat ceroboh. Ku pegang tangannya, dan berkata perlahan.
“Tenang bu! Percaya padaku!”

Ketika air nyaris memenuhi kabin bis, aku meminta Ibu dan si anak untuk mengambil nafas yang panjang, kemudian aku membimbing mereka bergerak ke kabin supir.

Saat itu, kondisi bis sudah miring sempurna. Jendela mobil berada di atas kepala dan bawah kakiku. Aku berhasil keluar melalui pintu supir, lantas aku menunggu disana, berusaha membantu si ibu dan anak keluar dari bis agar berenang ke permukaan.

Butuh waktu agak lama untuk membantu keduanya, setelah mereka berhasil meloloskan diri. Aku segera menyusul, ku gerakan kuat-kuat kakiku agar bisa mengejar mereka.

“Aaarrgghhh…” Teriakku. Gelembung udara keluar melayang ke atas.
Kakiku kram. Aku tak bisa bergerak.

Berteriakpun aku percuma, siapa yang bisa mendengarnya? Aku tetap mencoba berenang, hanya dengan tanganku, tapi arus air membawaku pergi menjauh, menjauhi bis serta si ibu dan anaknya, menjauhi peluangku untuk hidup.

Kesadaranku menurun, air mulai mengisi paru-paruku, aku tak bisa bernafas lagi, demikian akhir dari hidupku.

Dalam kesadaran yang menurun, aku melihat sosok kain putih melayang mendekatiku, ia berada di sampingmu, menemani ku yang hampir menjemput mautku.

Siapa dia? Aku bertanya. Sepertinya ia bisa membaca pikiranku, sosok itupun berbisik perlahan ke telingaku.

“Aku Sang Malaikat Maut, datang menjemput kawan!”

Malaikat maut ternyata…, tadinya aku berharap adanya keajaiban yang akan datang menghampiriku, menyelamatkanku seperti yang biasa kulihat dalam film-film di bioskop, tetapi itu hanya khayalanku semata.

Aku berbisik dalam hati, “Apakah tugasku sudah selesai di dunia ini?”

“Kau sudah mau mati, tapi masih bertanya hal seperti itu?!. Seharusnya kau bertanya apakah dirimu masuk surga atau nereka kawan!” Ledek malaikat maut itu. “Sudah, tugasmu di dunia ini sudah selesai kawan!!, kau melaksanakan dengan sempurna, dengan menyelamatkan bocah kecil itu?” Lanjutnya

“Mengapa bocah itu?” Tanyaku penasaran
“Dia di takdirkan menjadi seorang penguasa negeri ini. Membawa kemakuran dan kesejaterahan saat ia memimpin” Jawabnya.

Aku bersyukur ternyata aku menyelamatkan seseorang yang akan membawa negeri ini menjadi maju, dan akupun bersyukur karena telah secara sempurna menjalankan misiku di dunia.

Tubuhku terhanyut semakin jauh…

“Apa aku akan masuk surge atau neraka?” Tanyaku

Malaikat itu tersenyum.

“Kau lihat saja sendiri nanti” Ia kemudian menarik tanganku. “Mari kita berangkat!”. Aku merasakan ada sebagian dari dalam diriku yang tertarik ke atas, Jiwaku terbawa, menuju cahaya putih yang sangat menyilaukan.

Aku menutup mata, meninggalkan dunia ini tuk selamanya…

End