I feel you

John Mayer once said in rows of melody,
” So I’ll check the weather wherever you are
‘Cause I wanna know if you can see the stars tonight
It might be my only right ”

i hope you still see the stars
without fears
pain and sorrow will fade away
i hope you still see the glow of the night
without tears
close your eyes slowly
feel it calm into your soul
don’t feel bad
let the cold of night giving yourself an inner warm

i’m hold you,
feel you,
(from)here.

 

 

Advertisements

Sama dan Beda

Sama atau Beda…

Tidak selamanya yang Sama itu tidak Beda..

Tidak selamanya yang Beda itu tidak Sama..

Sama atau Beda..

Tidak selalu menjadi alasan untuk bisa bersama ataupun berpisah..

Sama atau Beda..

Tidak selalu menjadi jembatan penghubung ataupun jurang pemisah..

Satu hal yang sering terjadi..

Beda tidak akan ada lagi ketika Sama menjadi jembatan..

Sama tidak akan ada lagi ketika Beda menjadi jurang..

Sama atau Beda…

Sama menjadi tidak berBeda..

Beda menjadi tidak berSama..

Ditulis oleh Drh. Muhammad Ridwan

Mimpi

Mimpi atau juga dikenal sebagai bunga tidur bukan hal yang biasa dalam tidurku.

Aku merasa jarang bermimpi, entah karena aku tidak ingat tentang mimpiku atau memang tidak ada mimpi yang hinggap dalam lelapku.

Tapi di suatu malam aku bermimpi.

Bukan mimpi indah atau mimpi menyeramkan, bukan pula mimpi dengan hal-hal aneh.

Itu hanya mimpi dimana aku dapat bertemu dengannya kembali.

Ya, ternyata aku bisa bertemu dia sekali lagi.

Ya, ternyata aku bisa melihat wajah itu sekali lagi.

Ya, ternyata aku bisa mendengar suara tawa itu sekali lagi.

Ya, ternyata aku bisa memperhatikan cara bercerita itu sekali lagi.

Dan ya, ternyata aku bisa merasakan dia dekat sekali lagi.

Hai mimpi, terimakasih.

Ditulis oleh Alfitria Maharani

Akhir Sebuah Awal

Handphoneku berbunyi menandakan ada notifikasi masuk pada media sosial yang diriku lumayan aktif melakukan ke-alay-an di dalamnya. Ternyata notifkasi adanya permintaan untuk menjadi pertemanan. Melihat mutual friends yang cukup banyak tanpa melihat profilnya lebih dalam langsung saja aku klik tombol ‘accept’. Kebiasaan buruk memang, hanya melihat dari mutual friends yang banyak merasa bahwa orang tersebut masih masuk dalam lingkaran sosial kita.

*********

Seperti biasa kala bosan mulai menyerangku, hal yang bisa kulakukan untuk mengusirnya adalah membuka halaman media sosialku. Menjadi sebuah hiburan tersendiri melihat ragamnya postingan demi postingan orang. Entah itu isinya menghujat pemerintah, mendukung pemerintah, quotes dari motivator dewa, ajakan kebaikan, dan kadang hal-hal tidak penting. Ah, ternyata ada satu temanku suka sharing foto-fotonya dan caption-nya pun menarik. Tapi, kok namanya terasa asing bagiku. Siapakah dia? Mungkin salah satu junior di tempat aku menuntut ilmu. Melihat kata-katanya dalam gambarnya, rasanya dia habis mengalami sakit hati. Entah kenapa aku menjadi tertawa sendiri dalam hati. Kau tidak sendirian ternyata,kata-kata dalam pikiranku.

**********

Sudah banyak kisah yang kutulis, banyak pula yang berakhir tidak indah. Apakah memang aku penulis yang selalu mengakhiri kisah dengan kesedihan? Aku tidak tahu, karena apa yang aku tulis hanya dilandasi oleh perasaan. Banyak kertas-kertas yang pada akhirnya menjadi tempat favorit debu untuk bersemayan di pojok ruangan. Walau terkadang aku sesekali suka membacanya kembali dan ingin memperbaikinya, tetapi apa daya kisah itu tidak dapat diperbaiki karena memang sudah jelas akhirnya tidak akan berubah.

Handphoneku berbunyi, membuyarkanku dari lamunanku. Sebuah pesan masuk dari pemilik akun yang postingannya menjadi perhatianku belakangan ini. Kami menjadi teman diskusi dalam hal penulisan. Kami pikir, kami dapat melakukan kolaborasi dalam penulisan. We share same ideas, have same way of thinking, and have same tragic past. Kami pikir, yeah, we think, sampai saat ketika kami lagi sharing ide, dan kami mengetahui bahwa kami tidak akan berkolaborasi.

*************

Tidak lama setelah diskusi kami yang terakhir itu, saat aku sedang menghilangkan kebosananku bersama media sosialku, aku lihat ada sebuah postingan foto dengan caption “kisah yang ingin aku mulai ternyata harus berakhir lebih dahulu”.

Ditulis oleh drh. Muhammad Ridwan

Rona

Apakah dalam pandanganmu cinta itu berwarna?
Atau hanya sekedar hitam-putih dalam skala abu-abu?
Magenta, biru, jingga, merah
Warna cinta macam apa yang akan kau berikan padaku?
Kau bilang cinta berwarna merah,
Namun kau suguhkan warna lain,
Bukan warna yang kau katakan saat ini.
Kau bilang, aku buta warna.
Aku tersenyum, sinis.
Dilihat dari sudut manapun,
Siapapun tau itu bukan merah.
Namun kau masih bertahan,
Bersikeras mengatakan itu merah.
Aku pun mengalah.
Meski setengah terpaksa,
Ku terima cinta yang menurutmu merah itu.
Kini senyum sinisku tadi telah digantikan oleh senyum puasmu.
Ku pandangi cinta itu sesaat.
Bukan merah, Dan aku merasa dungu karena telah mendukung kebohongan pertamamu.

Hampir setiap saat kau yakinkan cinta yang kau berikan memang merah.
Pertentangan antara pernyataanmu dengan kenyataan yang ku yakini,
Membentuk sugesti maya dalam hati dan pikiranku.
Perlahan-lahan mulai timbul pertanyaan dalam benakku,
Benarkah aku buta warna?
Kau genggam perlahan tanganku sambil mengatakan,
“Tenanglah. meskipun buta warna,
Aku tak akan menipu warna cinta yang ku berikan padamu”
Aku tak menjawab,
Karena sejujurnya ku berharap kau mengatakan kalau aku tidak buta warna.

Seiring dengan perubahan sikapmu,
Cinta yang ku yakini bukan merah itu mulai luntur.
Aku pun semakin sulit mendefinisikan warna apa itu.
Atau inikah wujud dari warna cinta yang kau bilang merah?
Saat ku tanyakan hal itu padamu, kau menjawab seakan meremehkanku
“Mungkin kamu perlu memeriksakan indra penglihatanmu itu”
Lalu bagaimana dengan orang-orang yang menertawakanku lantaran sependapat denganmu yang mengatakan cinta itu merah?
Haruskah mereka memeriksakan indra penglihatannya juga?
Kau hentikan secara sepihak percakapan kita,
Lalu kau semprot parfum ke pergelangan tanganmu,
Bersiap untuk pergi.
Kau kecup pipiku datar, dan pamit hendak pulang.
Meninggalkan aku sendiri dalam kesunyian,
Hampa karena pertanyaanku yang tak kunjung
Mendapat jawaban memuaskan darimu.

 – Rona by D.V.