Perempuan Itu (Part 3)

Ciuman pertama kami terjadi tanpa rencana.

Aku ingat tangannya yang menggenggam tanganku. Aku menarik tubuhnya mendekat. Mendekapnya.

Perlahan aku merasa ada yang hangat mengalir. Air mata-nya.

Dia masih teringat laki-laki itu.

Aku hanya bisa memeluknya dan menenangkan dirinya.

Maaf,” ucapnya sembari menghapus air mata. Ia mencoba tersenyum. Aku hanya bisa memandang matanya yang basah dan mengusap pipinya.

Ada rasa cemburu karena aku bisa melihat jelas bayangan laki-laki itu di mata-nya.

Cemburu?

Aku langsung teringat pacarku yang selalu termakan api cemburu. Pacarku berbeda dengan dia. Dengan dia, aku bisa meluapkan kekesalanku dan rasa bosanku. Dengan dia, aku bisa memeluknya bebas di depan umum. Dengan dia, kami bisa tertawa bersama ataupun berdiskusi serius hingga larut malam. Dengan dia, ciuman ini terasa berbeda.

“Mungkin lebih baik kita pulang,” katanya sembari membereskan barangnya. “Mood-ku sedang tidak baik”

Matanya menatap nanar handphone dengan layar gelap di ujung meja.

Dia masih berharap dihubungi laki-laki itu. Hey, ada aku disini.

Aku mengangguk enggan. Dalam hati aku berjanji untuk mengembalikan cahaya bintang di matanya.

“You know what. I’m hungry. Wanna have McD before we go home?”

I just need more time with you, and your biggest weakness is food. 

Dia tersenyum lebar dan tertawa, “an ice cream wouldn’t hurt”

Aku tidak bisa menyembunyikan senyum kemenanganku. Another hour with her is what I need now. Walaupun akhirnya hanya dihabiskan dengan mengutuk politik negeri ini.

Advertisements

Persimpangan Jalan

Apa rasanya ketika jarak memisahkan, yang bisa kamu lakukan hanya menatap nama-nya di antara barisan nama di kontak handphone.

Ketika rasa ingin tahu terpenuhi hanya dengan melihat update status Line atau postingan facebook.

Terkadang ia menghubungimu dengan kata manis yang kamu yakini kalau itu palsu (sehingga kamu bisa menahan rasa senang yang kamu rasakan).

Namun, semua itu berakhir sudah. Ketika akhirnya kalian berada di persimpangan jalan. Kamu dalam hati sudah tahu kalau dia akan memilih jalan yang berbeda. Dan dia pun melepasmu pergi untuk memilih jalan yang berbeda.

Ingatanmu kembali ke masa kalian pertama kali bertemu. Di antara puluhan orang, mata mu menangkap matanya. Kamu yang bisa melihat masa depan hanya dengan menatap mata-nya. Ingatanmu berlarian menuju memori kalian sedang berjalan berdua, dan bagaimana hatimu terenyuh mendengar ia menelpon ibunya. Kali ini ingatanmu pergi ke masa dimana ia memelukmu erat dan mengatakan membutuhkanmu. Di saat itu kamu paham, ia akan pergi suatu saat nanti.

Saat ia memilih pergi ke Utara dan kamu ke Selatan, kamu paham hubungan sementara ini akan berakhir. Seperti hal-nya magnet, kutub utara dan kutub selatan saling bertolak belakang dan menolak satu sama lain.

Kamu yang percaya bahwa “teman untuk selamanya” akhirnya belajar menerima bahwa dia bukanlah teman yang kamu cari.

Namun hatimu tetap perih menyadari kenyataan ini.

Karena yang ia lihat hanyalah perbedaan di antara kalian.

Apakah ia menyadari betapa banyaknya persamaan yang kalian miliki?

Angin dan Gelap

Kau tahu apa yang paling menyengsarakan manusia di malam hari? Ketika ragamu tertidur tetapi pikiranmu menolak untuk beristirahat, pikiran yang tetap hidup walau mata sudah tertutup.

Ketika Ia semakin liar dalam tidur, kau takkan merasa cukup beristirahat. Pikiran seperti itu ibarat mesin yang terus menyala dan tak tahu kapan ia berhenti bekerja.

Malam itu, hujan rintik-rintik turun membahasi bumi yang tengah terlelap, rasanya aku terbangun dari tidurku, hawa dingin membangunkanku, dinginnya menusuk tajam ke tubuhku, berlapis-lapis selimut tebal tak mampu menahan hawa dingin, malam itu.

Aku berupaya untuk kembali ke buaian malam, tapi mataku menolak, aku dipaksa bangun, sendirian ditengah malam dan menyambut kegelapan.

“Hai Gelap” Sapaku pelan, tetapi ia hanya diam tak menjawab, “Hai gelap!!” Ku ulangi sapaanku, mungkin ia tak mendengar kala aku panggil pertama kali, untungnya kali ini ia membalas sapaanku.

Ia kemudian bertanya kepadaku, mengapa aku terjaga disaat semua orang terlelap dalam buaian malam, akupun menjawab

“Malam ini begitu dingin, entah mengapa? Hawa dingin membuatku tak bisa tidur!” Gelap menatapku dengan penuh iba, iapun pamit untuk pergi sebentar sekaligus berjanji padaku untuk membantu mengatasi hawa dingin yang menusuk ini.

Gelappun datang kembali kehadapanku, tetapi ia tidak sendiri, ia bersama dengan hal lain, ia datang bersama dengan Angin.

Aku menyapanya, dan bertanya kepadanya mengapa hari ini tiupan angin yang berhembus membawa hawa yang begitu dingin. Iapun menjawab bahwa hari ini merupakan hari kesedihan buatnya.

“Mengapa kau sedih, wahai Angin?” aku bertanya, tetapi Angon tetap diam tak menjawab dan memilih untuk pergi.

Aku hanya terdiam, mungkinkah aku salah bertanya, ketika aku bertanya pada Gelap, iapun tidak tahu.

Gelappun pamit undur diri padaku, karena tugasnya mengawal malam hampir selesai, akupun melirik ke jam yang terpatri di dinding kamarku, “Ah, Fajar telah datang ternyata…”

Aku terdiam termenung, menikmati gradasi wartan yang menghiasi langit pagi itu, ketika sang hitam perlahan pergi digantikan dengan terangnnya warna fajar yang naik perlahan.

Hari barupun telah datang, dan malam ini aku belajar dari Angin bahwa tak semua kesedihan bisa dibagi dan diceritakan, walaupun yang bersedih tak sadar kesedihannya telah mempengaruhi orang lain dan sekitarnya.

FIN

Mimpi

Mimpi atau juga dikenal sebagai bunga tidur bukan hal yang biasa dalam tidurku.

Aku merasa jarang bermimpi, entah karena aku tidak ingat tentang mimpiku atau memang tidak ada mimpi yang hinggap dalam lelapku.

Tapi di suatu malam aku bermimpi.

Bukan mimpi indah atau mimpi menyeramkan, bukan pula mimpi dengan hal-hal aneh.

Itu hanya mimpi dimana aku dapat bertemu dengannya kembali.

Ya, ternyata aku bisa bertemu dia sekali lagi.

Ya, ternyata aku bisa melihat wajah itu sekali lagi.

Ya, ternyata aku bisa mendengar suara tawa itu sekali lagi.

Ya, ternyata aku bisa memperhatikan cara bercerita itu sekali lagi.

Dan ya, ternyata aku bisa merasakan dia dekat sekali lagi.

Hai mimpi, terimakasih.

Ditulis oleh Alfitria Maharani

Akhir Sebuah Awal

Handphoneku berbunyi menandakan ada notifikasi masuk pada media sosial yang diriku lumayan aktif melakukan ke-alay-an di dalamnya. Ternyata notifkasi adanya permintaan untuk menjadi pertemanan. Melihat mutual friends yang cukup banyak tanpa melihat profilnya lebih dalam langsung saja aku klik tombol ‘accept’. Kebiasaan buruk memang, hanya melihat dari mutual friends yang banyak merasa bahwa orang tersebut masih masuk dalam lingkaran sosial kita.

*********

Seperti biasa kala bosan mulai menyerangku, hal yang bisa kulakukan untuk mengusirnya adalah membuka halaman media sosialku. Menjadi sebuah hiburan tersendiri melihat ragamnya postingan demi postingan orang. Entah itu isinya menghujat pemerintah, mendukung pemerintah, quotes dari motivator dewa, ajakan kebaikan, dan kadang hal-hal tidak penting. Ah, ternyata ada satu temanku suka sharing foto-fotonya dan caption-nya pun menarik. Tapi, kok namanya terasa asing bagiku. Siapakah dia? Mungkin salah satu junior di tempat aku menuntut ilmu. Melihat kata-katanya dalam gambarnya, rasanya dia habis mengalami sakit hati. Entah kenapa aku menjadi tertawa sendiri dalam hati. Kau tidak sendirian ternyata,kata-kata dalam pikiranku.

**********

Sudah banyak kisah yang kutulis, banyak pula yang berakhir tidak indah. Apakah memang aku penulis yang selalu mengakhiri kisah dengan kesedihan? Aku tidak tahu, karena apa yang aku tulis hanya dilandasi oleh perasaan. Banyak kertas-kertas yang pada akhirnya menjadi tempat favorit debu untuk bersemayan di pojok ruangan. Walau terkadang aku sesekali suka membacanya kembali dan ingin memperbaikinya, tetapi apa daya kisah itu tidak dapat diperbaiki karena memang sudah jelas akhirnya tidak akan berubah.

Handphoneku berbunyi, membuyarkanku dari lamunanku. Sebuah pesan masuk dari pemilik akun yang postingannya menjadi perhatianku belakangan ini. Kami menjadi teman diskusi dalam hal penulisan. Kami pikir, kami dapat melakukan kolaborasi dalam penulisan. We share same ideas, have same way of thinking, and have same tragic past. Kami pikir, yeah, we think, sampai saat ketika kami lagi sharing ide, dan kami mengetahui bahwa kami tidak akan berkolaborasi.

*************

Tidak lama setelah diskusi kami yang terakhir itu, saat aku sedang menghilangkan kebosananku bersama media sosialku, aku lihat ada sebuah postingan foto dengan caption “kisah yang ingin aku mulai ternyata harus berakhir lebih dahulu”.

Ditulis oleh drh. Muhammad Ridwan

Pahit

Pagi itu, aku berdiri di dekat sambungan antara gerbong kereta, dihadapanku duduk tiga ibu hamil di kursi prioritas, dua diantaranya sedang hamil tua, sedangkan satu lagi mungkin baru memasuki tri semester pertama, karena perutnya belum terlihat membesar. Ya, aku ingat hari itu hari jumat, karena para wanita hamil itu mengenakan batik, begitu pula sebagaian besar penumpang kereta yang lain.

Aku kembali teringat percakapanku denganya di malam sebelumnya, tapi ingatanku terasa samar, aku hanya bisa mengingat tawa, desahan nafasnya.

“besok jam tujuh ya, ku tunggu…” ucapnya, mesra.

Kata-katanya itu begitu membiusku, akhirnya setelah sekian lama aku ditolak untuk berkunjung ke kediamannya, dia mengizinkannya.

Besok akan menjadi hari yang menyenangkan, pikirku.

***

Gentleman code mengajarkanku untuk tidak datang dengan tangan kosong ketika diundang datang berkunjung ke kediaman seseorang, membawa sebuah hadiah merupakan bentuk penghargaan kepada tuan rumah. Aku memilih untuk membawakannya sekotak eksrim cokelat untuknya.

Aku teringat beberapa kisah yang pernah dia ceritakan kepadaku, eskrim cokelat selalu mengingatkannya kepada ayahnya, dahulu, ketika usianya masih kecil ayahnya selalu membawakanya eskrim rasa cokelat. Aku berharap hadiah kecil ini dapat membuatnya tersenang.

Aku beruntung karena kedai eskrim cokelat kesukaannya berada dekat dengan tempat tinggalnya, setidaknya aku tak perlu jauh-jauh pergi dan bisa tiba di kediamannya tepat waktu.

***

Jam sudah menunjukan pukul 6.30, saat itu aku sudah sampai di stasiun di dekat apartemennya. Jalan kaki kesana menghabiskan sepuluh menit, mungkin aku bisa bersantai sebentar di stasiun. Tapi keinginan itu pupus, tak lama setelah aku duduk di coffee shop stasiun.

Pada awalnya aku tak percaya, tapi lambat laun aku mengenali sosok berbaju putih yang sedang bermesraan di salah satu sudut stasiun. Wanita itu mengengam dengan erat tangan seorang paruh baya, wajahnya begitu bahagia.

“mungkin itu ayahnya.” Pikirku.

Tapi, tak mungkin seorang ayah mengucapkan selamat tinggal kepada anaknya dengan ciuman mesra di atas bibir masing-masing. Aku hanya bisa terdiam bingung melihatnya.

***

Pukul tujuh.

Teleponku berdering, ada panggilan masuk darinya, tapi aku sama sekali tak tertarik untuk mengangkatnya.

FIN

Perempuan Itu (Part 2)

Mata itu, hitam sekelam malam tanpa bintang.
Aku takut menatapnya terlalu lama, aku takut tenggelam dalam pusaran gelap tanpa batas itu.
Binarnya telah hilang dan aku rindu bintang gemerlap yang menari di dalam mata itu.
Karena itu, aku memberi jarak. Duduk berjauhan dengan jarak aman cukup membuatku tidak terpaku dengannya.

Perempuan itu, terlihat seperti perempuan pada umumnya. Bahkan dia pintar untuk menutupi badai yang berkecamuk di dalam hati-nya. Namun, mata ku yang telah memandang dia selama lima tahun terakhir ini dapat melihat dengan jelas perubahan itu.

Semakin diperhatikan, semakin menarik.
Sejujurnya aku takut dengan perasaan yang muncul ini.
Ada rasa bersalah yang terselip ketika memandangnya terlalu lama.
Namun mengalir juga rasa hangat yang sulit dijelaskan ketika mata kami bertemu.

Tiba-tiba hpku bergetar, di layarnya berkedip sebuah nama.
Pacarku menelpon.