Sunset

I walk through the line
As I see the sun goes down
I wish it could be you that sit next to me
As the wind plays my hair
And you hold my hand and kiss my shoulder
I want to hold you tight
As if there is no tomorrow
And yet, you are not there
Or anywhere

Kereta Pukul 08.00

Kereta itu melaju.
Jadwal keberangkatan jam 08.00.
Penuh sesak dengan penumpang yang hendak berangkat kerja

Tahukah kalian?
12 rangkaian kereta itu terguling tak jauh dari stasiun keberangkatan.
Patah rel menjadi penyebabnya.
Banyak yang terluka.
Banyak pula yang tak bernyawa.
Tentunya, peristiwa ini begitu mengagetkan, semua orang

Tapi tahukah kamu apa yang paling kusesali sekarang?
Aku yang memaksakan diri untuk masuk ke dalam kereta.
Menyikut orang lain agar ia turun dari gerbong kereta.
Aku menyesal, tak mendengarkan himbauan petugas.
Untuk menunggu kereta selanjutnya.

Aku sekarang hanya bisa pasrah.
Menunggu hari dimana apa yang kuperbuat diminta pertanggungjawabannya.

I feel you

John Mayer once said in rows of melody,
” So I’ll check the weather wherever you are
‘Cause I wanna know if you can see the stars tonight
It might be my only right ”

i hope you still see the stars
without fears
pain and sorrow will fade away
i hope you still see the glow of the night
without tears
close your eyes slowly
feel it calm into your soul
don’t feel bad
let the cold of night giving yourself an inner warm

i’m hold you,
feel you,
(from)here.

 

 

Comfort Zone

You and me

Pick a place together

A place for you to enjoy your Long Black, while me happy with my Latte

A place for us to be whoever we want to be

A place where you can laugh without hesitation

A place where I can cry without being scared

A special place that you and me can be together although separately live miles away

But you know, people said that

“Life starts at the end of comfort zone”

Same Fire

You know how when your heart beats to the leaves that fall

That red-orange leaves in autumn

Beauty but tragic, you whispered

As the wind plays your hair, your eyes captured the clear blue sky

You love this city so much yet you still miss your hometown

This is your dream, you whispered to yourself, convincing your heart that everything will be fine

But, why do I feel lonely? 

And your eyes longing to never end

When the trees start to grow again, you will find another eyes to captured

The smile that you’ve been missing

You will recognise the fire in his eyes

It’s the same fire that you have

Both of you, together, will be the answer of thousand questions in your mind

Penasaran

Pernah jumpa

Tetapi tak kuingatnya

Mungkin di bawah alam sadar atau sekelebat dalam ruangan berpendingin di dalam gedung berlantai marmer no.2

Perlahan ingatanku seketika tiba

Seiring dengan lewatnya tukang kue rangi yang renta

Dengan kaki lemahnya dia tetap berusaha

Dan nafasnya yang hampir setengah tidak ada
Aku ingat, aku ingat dan aku ingat pernah melihatnya

Ya, disebuah bangku panjang di warung tegal samping pangkalan mikrolet

Saat itu aku sedang mencari, apa arti dari memberi

Kau pun terlihat menawan, dengan blus warna cerah dan rok diatas dengkul

Aku tak mampu bicara saat itu, hanya menikmati hisapan sedotan demi sedotan es teh manis yang kupesan

Setelah habis es teh manis yang ku minum, tanpa kusadari ternyata dia pun berlalu

Tanpa sedikit pun meninggalkan clue, siapa namamu

Doa

7 tahun…?
bukanlah waktu yang singkat
untuk aku mempertahankan adanya dirimu dalam pikiranku.
Mungkin adanya hadirku dalam hidupmu,
bukanlah sesuatu yang berefek panjang, tapi tidak untuku.
Kamu manusia yang paling sulit dilupakan.

Mungkin aku pernah mencoba belajar
untuk terbiasa dengan yang lain demi melupakanmu
tetapi setelah akhirnya kita sama-sama sendiri lagi
Tuhan seakan menghadirkan kamu kembali dalam pikiranku
Akupun tidak tahu apa maksud-Nya?
Aku hanya bisa bertanya untuk mencari jawaban itu

dalam setiap harapan dalam doa di lima waktu ibadahku

Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain melalui doa kepada-Nya
karena aku percaya kekuatan doa bisa melewati batas ruang dan waktu
Aku juga masih percaya bahwa

Yang Maha Pengasih dan Penyayang akan menyiapkan waktu terbaik untuk mempertemukan kita kembali
menyambung tali silaturahmi kita kembali
entah sampai ke jenjang yang mana
Semoga Yang Maha Esa, tetap menjaga hati kita untuk dekat kepada-Nya sebelum kita didekatkan satu sama lain.

Dari perempuan yang tidak sesempurna itu untukmu.

Untuk dan Atas Nama Bahagia, Maka Gue Putuskan…(3)

[ JAKARTA, di hari bahagianya]

Pagi ini Jakarta terlihat agak gelap langitnya, padahal menurut perhitungan bulan sih seharusnya sudah mulai musim panas sekarang. Gue duduk di pinggir jendela sambil menikmati segelas kopi sembari melihat keadaan pagi di sekitar rumah gue. Ah, gue memang kangen banget sama Jakarta. Hari ini gue memang di Jakarta dan hari ini adalah hari bahagia Nadia. Sounds perfect, Yap pastinya juga hari ini gue berdandan lebih rapih dari biasanya.

Gue pergi dijemput oleh Farid, karena dia tau gue udah lama lupa sama jalanan Jakarta. Gue lebih banyak diam selama di perjalanan, gue lebih merasa nyaman untuk melihat kearah jalanan kota yang gue rindukan ini.

“ Eh teman gue ini kuliah di London malah jadi kalem ya.hahahaha”, ujar Farid    sambil menepuk bahu gue dan memecah lamunan gue yang daritadi hanya melihat keluar jendela

Hingga kita sampai disana dan gue bertemu dengan Nadia. Hari ini dia sangat cantik dengan gaun putih panjang yang membungkus tubuh mungilnya. Ia tersenyum ke gue lalu ia sedikit merunduk , gue pun juga hanya bisa menyapanya lewat senyuman. Lalu ia melangkah menuju sebuah kursi yang gue lihat sebelahnya masih kosong. Tak lama ada yang menghampirinya… Ya sosok gagah itu datang mengisi kursi yang disebelahnya. Mereka saling tersenyum namun agak sedikit tersipu malu.

“ Baiklah, kita bisa mulai acara akad nikahnya ya?”, ujar seorang bapak yang berada di hadapan mereka.

Hingga akhirnya kata “sah” sudah dilontarkan oleh kedua saksi diikuti raut wajah bahagia dari hadirin yang ada disana, termasuk gue. Sudah gue bilang memang ini hari bahagia Nadia, yang menemukan kebahagiaan sejatinya bukan pada diri gue tetapi kepada pria itu. Pria yang bukan hanya sekedar memberikan kebahagiaan saja tetapi juga melengkapi hidupnya. Lagipula pria itu sudah jauh lebih mapan dari seorang Taufan yang baru saja akan diwisuda dan lebih banyak punya waktu untuk Nadia dibanding gue , tanpa Nadia harus susah payah meluangkan waktu kosongnya.

“ Fan….”, ucap Farid sedikit lirih dengan raut wajah seperti berkata “are you okay?”

“ No problem bro”, gue membalasnya dengan senyum yang setulus mungkin gue tampakkan.

Untuk dan atas nama bahagia, maka gue putuskan untuk melepasnya

Taufan Bagaskara.

Untuk dan Atas Nama Bahagia, Maka Gue Putuskan…(2)

………

Ternyata hubungan jarak jauh itu unik juga, dan menurut gue ini adalah seni dalam menjalani sebuah hubungan. Gue dan Nadia masih sering video call via Skype kalau weekend , sampai kadang kadang kita ketiduran di depan laptop, atau sekedar berbalas chat. Gue nikmatin itu semua dan gue jalanin dnegan ikhlas, karena gue percaya tadi “ Distance means nothing when someone means everything”  ya artinya jarak itu bukanlah sebuah hambatan untuk melemahkan hubungan. Ohya pernah sekali waktu kita saling kirim hadiah ulang tahun satu sama lain, ya karena ongkos ekspedisinya mahal jadi harus ditabung dari jauh jauh hari.  Lucu banget, gue enggak nyangka LDR bakal selucu ini. Walaupun dalam hati gue gak pernah bisa bohong kalau gue kangen banget sama Nadia dan pengen ketemu secara langsung.

Setahun, dua tahun kita LDR dan gue ngerasa walaupun jauh hubungan kita semakin kuat. Ya kadang emang pernah ribut ribut kecil sih, tapi toh selama ini masih bisa diselesaikan. Gue merasa lega, masih bisa membuat Nadia bahagia walaupun engga di dekatnya. Sampai akhirnya, memasuki semester yang cukup sibuk bagi gue dimana gue diajak sebagai mendaftar sebagai salah satu tim untuk maju kedalam sebuah kompetisi  yang akan mewakili kampus. Awalnya gue bingung karena gue merasa enggak sepinter temen-temen gue yang lain, dan dari tim itu cuman gue yang dari Indonesia..bahkan orang Asia. Sambil menakar baik baik tawaran teman, gue sharing juga dengan keluarga dan tentunya Nadia.

Tanggapan dari keluarga gue positif, mereka justru sangat mendukung gue dan bangga sama gue kalau bisa sampai lolos sampai final di kompetisi tersebut. Nadia pun memiliki jawaban yang sama akan itu, walau gue harus jujur kalau kita berdua akan sangat jarang untuk berkomunikasi. Nadia juga di semester ini sedang banyak praktikum yang membuat dia sibuk.Tenang aja Nad, kamu akan bahagia kalau aku bisa jadi juara.

Selama proses gue latihan lomba gue tetap berusaha menguhubungi Nadia lewat e-mail. Sebulan awal semua masih lancar, masih saling membalas pesan satu sama lain. Sampai pada saat Nadia lama sekali enggak membalas e-mail gue. Ya gue wajar aja sih mungkin dia juga sibuk, dan enggak terlalu gue pikirin karena harus fokus latihan sama tim gue disini.

Dua bulan..tiga bulan… Nadia semakin jarang membalas e-mail gue. Sebenernya gue jadi agak sedih, gue takut karena gue yang telalu sibuk disini jadi engga punya waktu untuk sekedar buka Skype atau meninggalkan voice note kepada dia. Sabar ya Nad, aku janji liburan ini akan pulang ke Jakarta. Hal ini bikin semangat latihan gue sedikit turun, tapi beruntunglah teman-teman satu tim gue selalu memberikan semangat pada gue.

Memasuki bulan keempat dimana gue dan tim harus berangkat ke Washington DC untuk kompetisi tersebut. Pada pagi itu gue cek email engga ada pesan dari Nadia, gue menghela nafas dan sedikit sedih tapi gue harus tetap semangat demi membawa nama alamater kampus dan Indonesia.Gue hanya meninggalkan pesan sedikit

“ Hai Nadia, hari ini aku akan berangkat ke Washington DC selama 5 hari. Doakan aku dan teman-temanku bisa menang ya. Semangat terus sayang kuliahnya 🙂 

Ps: aku akan mempercepat jadwal kepulanganku ke Jakarta loh “

 Gue yakin pasti Nadia akan balas, dan harus gue ikutin saran teman gue Pieter untuk tidak mengecek email  atau apapun agar gue merasa surprise di akhir nanti jika membuka e-mail dari Nadia, terlebih kalau bisa menang. Wah ini pasti akan menjadi berita bahagia untuk dia.

5 hari di Washington, 5 hari perjuangan bersama teman teman, 5 hari untuk mengharumkan nama almamater kampus, 5 hari gue bisa bangga sebagai satu satunya orang Indonesia dari kampus gue, 5 hari untuk membuat bangga keluarga gue dan 5 hari menahan diri untuk bisa kembali berkomunikasi normal dengan Nadia.

Syukur Alhamdullilah, semua proses yang kami jalanin disini berjalan lancar. Gue juga senang punya banyak teman baru dari berbagai negara, dan banyak pengalaman yang gue dapet selama disini. Alhamdullilah juga kampus kebanggaan gue berhasil menjadi juara 1 dan dapet award best memorial.  Yes, gue berhasil bikin bangga keluarga gue dan pastinya Nadia!! Gue gak sabar banget mau kirim email dengan banyak cerita dan hanya hitungan hari gue juga akan pulang ke Jakarta!!

From: nadia.risyana@gmail.com

to: taufanbagaskara30@gmail.com

Message: Taufan, maafin selama ini ngilang…maaf lagi kalo……….

Bersambung….