Anak Gadis Berbaju Putih

Aku berjalan sendirian menuju rumahku, mungkin dalam waktu 5 menit aku akan segera sampai. Aku tinggal di sebuah perumahan di pinggir kota, suasana di sini sangatlah tenang dan menyenangkan, tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi.

Tapi malam itu suasana sangat berbeda, malam begitu sunyi, sinar bulan purnama timbul tenggelam karena langit yang mendung, angin bertiup begitu keras, memainkan suara gemerisik keras diantara rindanganya pepohonan.

Saat mendekati persimpangan, aku mendengar tawa anak kecil yang riang, aku mencari darimana suara itu berasal. Ketika aku melihat kesebelah kiri, aku melihat sesosok anak kecil berbaju abu-abu berlari kecil dengan riang di ujung persimpangan jalan yang lain.

Aku terkejut, orang tua mana yang memperbolehkan anaknya keluar jam segini. Tiba-tiba, angin kencang berhembus, membawa butiran-butiran debu yang membuat mataku perih. Aku menutup mataku.

Tak lama setelah angin berhenti berhembus, seseorang menarik bajuku, lalu ku mendengar suara anak perempuan bertanya
“Ada apa Kak? Kok kakak dari tadi memandangku dari kejauhan?”

FIN

Advertisements

Angin dan Gelap

Kau tahu apa yang paling menyengsarakan manusia di malam hari? Ketika ragamu tertidur tetapi pikiranmu menolak untuk beristirahat, pikiran yang tetap hidup walau mata sudah tertutup.

Ketika Ia semakin liar dalam tidur, kau takkan merasa cukup beristirahat. Pikiran seperti itu ibarat mesin yang terus menyala dan tak tahu kapan ia berhenti bekerja.

Malam itu, hujan rintik-rintik turun membahasi bumi yang tengah terlelap, rasanya aku terbangun dari tidurku, hawa dingin membangunkanku, dinginnya menusuk tajam ke tubuhku, berlapis-lapis selimut tebal tak mampu menahan hawa dingin, malam itu.

Aku berupaya untuk kembali ke buaian malam, tapi mataku menolak, aku dipaksa bangun, sendirian ditengah malam dan menyambut kegelapan.

“Hai Gelap” Sapaku pelan, tetapi ia hanya diam tak menjawab, “Hai gelap!!” Ku ulangi sapaanku, mungkin ia tak mendengar kala aku panggil pertama kali, untungnya kali ini ia membalas sapaanku.

Ia kemudian bertanya kepadaku, mengapa aku terjaga disaat semua orang terlelap dalam buaian malam, akupun menjawab

“Malam ini begitu dingin, entah mengapa? Hawa dingin membuatku tak bisa tidur!” Gelap menatapku dengan penuh iba, iapun pamit untuk pergi sebentar sekaligus berjanji padaku untuk membantu mengatasi hawa dingin yang menusuk ini.

Gelappun datang kembali kehadapanku, tetapi ia tidak sendiri, ia bersama dengan hal lain, ia datang bersama dengan Angin.

Aku menyapanya, dan bertanya kepadanya mengapa hari ini tiupan angin yang berhembus membawa hawa yang begitu dingin. Iapun menjawab bahwa hari ini merupakan hari kesedihan buatnya.

“Mengapa kau sedih, wahai Angin?” aku bertanya, tetapi Angon tetap diam tak menjawab dan memilih untuk pergi.

Aku hanya terdiam, mungkinkah aku salah bertanya, ketika aku bertanya pada Gelap, iapun tidak tahu.

Gelappun pamit undur diri padaku, karena tugasnya mengawal malam hampir selesai, akupun melirik ke jam yang terpatri di dinding kamarku, “Ah, Fajar telah datang ternyata…”

Aku terdiam termenung, menikmati gradasi wartan yang menghiasi langit pagi itu, ketika sang hitam perlahan pergi digantikan dengan terangnnya warna fajar yang naik perlahan.

Hari barupun telah datang, dan malam ini aku belajar dari Angin bahwa tak semua kesedihan bisa dibagi dan diceritakan, walaupun yang bersedih tak sadar kesedihannya telah mempengaruhi orang lain dan sekitarnya.

FIN