Anak Gadis Berbaju Putih

Aku berjalan sendirian menuju rumahku, mungkin dalam waktu 5 menit aku akan segera sampai. Aku tinggal di sebuah perumahan di pinggir kota, suasana di sini sangatlah tenang dan menyenangkan, tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi.

Tapi malam itu suasana sangat berbeda, malam begitu sunyi, sinar bulan purnama timbul tenggelam karena langit yang mendung, angin bertiup begitu keras, memainkan suara gemerisik keras diantara rindanganya pepohonan.

Saat mendekati persimpangan, aku mendengar tawa anak kecil yang riang, aku mencari darimana suara itu berasal. Ketika aku melihat kesebelah kiri, aku melihat sesosok anak kecil berbaju abu-abu berlari kecil dengan riang di ujung persimpangan jalan yang lain.

Aku terkejut, orang tua mana yang memperbolehkan anaknya keluar jam segini. Tiba-tiba, angin kencang berhembus, membawa butiran-butiran debu yang membuat mataku perih. Aku menutup mataku.

Tak lama setelah angin berhenti berhembus, seseorang menarik bajuku, lalu ku mendengar suara anak perempuan bertanya
“Ada apa Kak? Kok kakak dari tadi memandangku dari kejauhan?”

FIN

Advertisements

Pengamat

Rama ingat saat Shinta menjelaskan perbedaan antara teh Earl Grey dan teh English Breakfast. Namun tidak bisa dipungkiri, ia tidak bisa membedakan keduanya. Sepanjang masa berpacaran, ia hanya bisa membedakan Camomile dengan Green Tea.

Berbeda dengan Shinta, ia paham ketika Rama menjelaskan perbedaan dari Kopi Luwak dengan Kopi Sumatera. Namun tidak bisa dipungkiri, ia tidak bisa mengkonsumsi kopi. Setiap kali ia meminum ‘kopi asli’ jantungnya akan berdetak terlalu kencang, dan irama hatinya jadi tidak beraturan. Sehingga ia tetap meminum teh yang juga mengandung kafein sekaligus menenangkan.

Kali ini, Rama memesan Earl Grey, karena ia mengetahui apabila Shinta memesan teh tersebut. Kini ia sudah paham apabila Shinta akan meminum Green Tea di pagi hari, English Breakfast di siang hari, Earl Grey di sore hari, dan Camomile di malam hari. Setelah Shinta meneguk tegukan pertamanya, telepon genggam Shinta berbunyi.

“Hai Rama…” sapa Shinta setelah melihat nama mantan kekasihnya di layar teleponnya.

“Hai Shinta, pa kabar?”

“Baik, kamu gimana?” tanya Shinta dengan nada menenangkan. Setidaknya, nada menenangkan untuk Rama.

“Baik. Kamu lagi senggang ngga?”

“Ya, untuk kira-kira sepuluh menit ke depan sih senggang. Ada apa?”

“Aku mau kasih sesuatu ke kamu.”

“Oya? Apa tuh?”

Rama memperhatikan Shinta dengan seksama. Wajah Shinta tidak berubah. Padahal nada suaranya tampak ekspresif.

“Undangan.”

“Undangan apaa?” Shinta menggoda. Tapi wajahnya tidak berubah.

Jantung Rama berdetak lebih kencang. Ia tahu ia berharap Shinta akan setidaknya memberikan sedikit ekspresi, kalau bisa ekspresi penyesalan, setelah mendengar kalimat selanjutnya.

“Undangan pernikahan aku sama Talia.”

“Waaah! Selamaat! Kapan nikahnya?” Jawab Shinta dengan nada bahagia. Kali ini, ekspresi wajahnya ikut senang.

Rama kecewa. Ia selalu berharap kalau Shinta akan kehilangan dirinya seperti ia kehilangan Shinta. Ia berharap Shinta tahu usaha Rama untuk memahami Shinta. Ia berharap Shinta tahu usaha Rama untuk memahami rasa teh kesukaan Shinta. Ia berharap Shinta juga berusaha untuk menyukai kopi kegemaran Rama.

“Ram?” tanya Shinta. Ia heran mendadak suara di seberang teleponnya hilang. “Rama?”

“Ohh… Halo? Sori, gue lagi nyetir” dusta Rama. Tidak mungkin ia mengaku ke Shinta kalau dirinya adalah pria dengan teropong jarak dekat yang hanya berjarak 20 meter darinya di restoran yang sama. Hanya saja Shinta duduk di teras lantai satu, Rama di teras lantai dua.

“Ooh. Iyaa selamat! kapan nikahannya?”

“Nanti aku kasih undangannya ya.”

“Aku lagi sibuk sih seminggu ini, kalau mau, kamu kirim aja ke rumah aku.”

“Hahaha, sempet lah, kalo cuma kasih undangan.” kata Rama.

“Okeee. Eh, hati-hati jangan telpon sambil nyetir. Udahan dulu yaa!”

“Okee. Daaah…”

Shinta mematikan saluran telepon mereka.

Rama masih memperhatikan gerak-gerik Shinta, berharap ada ekspresi lain yang ia harapkan setelah Shinta memutuskan saluran telepon mereka, selain senyuman Shinta saat meneguk secangkir teh Earl Grey yang masih hangat dan menenangkan.